Selasa, 08 Maret 2016

Pertentangan Agama dan Sains dengan Empat Pendekatan


Kali ini saya menulis sedikit berat. Tulisan ini saya ambil dari bukunya John F Hougt, yang merupakan buku wajib untuk mata kuliah agama dan sains semester lima.  Apakah agama dan sains bisa disatukan? Kita sering melihat bahwa adanya dikotomi antara agama dan sains. Rasa-rasanya keduanya semakin runcing saja pertentangannya. Sains merasa paling benar karena secara logika memang bisa dibuktikan kebenarannya. Nyata begitu. Sedangkan agama, karena bersumber dari wahyu, maka hanya hati saja yang tahu.
Sebelum terjadi dialog agama dan sains, kita terlebih dahulu belajar tentang bagaimana hal itu bisa terjadi. Dalam buku Perjumpaan Sains dan Agama dari Konflik Ke Dialog karangan John F Hougt mengajukan sebuah pertanyaan diawal pembahasan bukunya yaitu apakah agama bertentangan dengan sains? Agama berasal dari wahyu, kitab suci diyakini kebenarannya mutlak sedangkan sains kebenarannnya relatif, bisa berubah-ubah. Jika ada teori yang baru, maka teori lama bisa dipatahkan. Jadi kebenarannya relatif. Keduanya merupakan bagian penting dari kehidupan manusia. Pertentangan antara agama dan sains tak perlu terjadi jika: kita mau belajar mempertemukan ide-ide spiritualitas [agama] dengan sains yang sebenarnya sudah berlangsung lama. Agama dijadikan pedoman bagi sains. Dalam bukunya, beliau melakukan perjumpaan sains dan agama melalui empat pendekatan yaitu.
1.      Pendekatan konflik: dalam pendekatan ini, sains dan agama tidak dapat disatukan. Kaum skeptik (orang-orang yang menolak agama atas anama sains) alasannya adalah agama benar-benar tidak dapat dibuktikan kebenarannya secara tegas sedangan sains bisa dibuktikan kebenarannya karena berdasarkan bukti empirik. Sains menguji kebenarannya melalui “pengalaman” dan hipotesisnya. Agama tidak dapat melakukan hal itu. Ada suatu pertentangan antara agama dan sains. Kaum ini juga menyangkal keberadaan Tuhan, lebih mirip dengan kaum liberal. Agama dengan keyakinan sedangkan sains tidak berbicara tidak seperti itu sehingga mengatakan bahwa agama berimajinasi liar. Agam terlalu emosional, bergairah, dan subjektif. Sedangkan sains berusaha untuk objektif, tidak memihak dan tidak terlalu bergairah. Bukan hanya kaum skeptik yang mangatakan agama bertentangan denagan sains namun kaum biblikal (kaum yang mengatakan bahwa kitab suci adalah benar secara harfiah). Manakala teori ilmiah tidak sesuai dengan kitab suci, maka mereka akan mengatakan bahwa agama benar dan sains salah. Ada juga, sekelompok kritikus lain yang mengatakan bahwa sains adalah musuh agama. Mereka mengatakan bahwa sainslah yang menyebabkan kehidupan dan kebudayaan modern ditimpa kehampaan dan kenirmakaan yang dahsyat. Menurut Bryan, sains secara spiritual bersifat merusak, yaitu dengan mengikis habis otoritas-otoritas dan tradisi-tradisi "kuno”. Akibatnya, pengalaman modernpun kehilangan makna tradisionalnya. Tidak mungkin seseorang bersikap serentak bersikap religious dan ilmiah secara jujur dan tegas.
2.      Pendekatan kontras : dalam pendekatan ini, ilmuwan dan teolog tidak menemukan pertentangan yang tegas. Mereka berdiri sendiri, tidka dapat disatukan. Tidak ada gunanya bertentangan dalam hal ini karena wilayahnya yang berbeda. Untuk menghindari konflik, pendekatan ini menandakan bahwa kita harus terlebih dahulu menghindari percampurbauran sains dan keimanan sehingga menghasilkan sesuatu yang kabur. Galileo bertentangan dengan gereja yang mengatakan bahwa Tuhan itu tiga, bagaimana mungkin Tuhan itu tiga dalam satu kesatuan. Ini tidak masuk akal. Pemikiran Galileo abad ke 19 yang mengatakan bahwa matahari sebagai pusat tata surya bertentangan denga gereja. Menurut pandangan ini, agama dan sains itu berbeda. Jalan lain yang harus ditempuh yaitu peleburan. Dalam hal ini adalah suatu upaya untuk menghindari konflik sehingga nyaris tidak bisa dibedakan antara agama dan sains. Hal ini cukup menarik karena paling aman. Menurut kubu kontras, keyakinan yang didokrin itu sama sakali bukan pengenalan ilmiah yang tidak memihak atau netral. Tujuan dari pendekatan ini adalah menghindari konflik, campur baur dan memisahkan secara tegas. Masing-masing memiliki persoalan sendiri, wilayanh sendiri dan terpisah. Keduanya perlu ilmu dan menghormati.
3.      Pendekatan kontak: suatu pendekatan yang mengupayakan dialog, interaksi dan kemungkinan adanya penyesuaian anatra sains dan agama, dan terutama mengupayakan cara bagaimana sains ikut mempengaruhi pemahaman religious dan teologis. Bersama-sama tapi tidak harus melebur, mrupakan pendekatan yang menanggapi kontras, berdiskusi tapi tidak mempengaruhi. Kelebihannya adalah menambah cakrawala keilmuwan. Kelemahannya sains tidak tampak murni dan objektif.. teologi tidak murni dan subjektif (bersifat relative). Contoh penemuan air laut dan tawar  yang telah disebutkan dalam Alquran.
4.      Pendekatan konfirmasi dirumuskan sebagai pernyataan agama bahwa alam semesta ini adalah suatu totalitas yang terbatas, koheren, rasional, dan tertata. Dalam hal ini memberikan gambaran bahwa segala sesuatu yang terkonsisten mendorong pencarian ilmiah akan pengetahuan dan membebaskan ilmu pengetahuan dari keterkaitan pada ideologi-ideologi yang membelenggu. Iman yang merupakan kepercayaan mendasar akan rasionalitas yang luas dari realitas, tidaklah bertentangan dengan sains, melainkan justru merupakan sumbernya. Tanpa unsur kepercayaan ini kiranya tidak ada juga rangsangan melalui sains. Agama sumber konfirmasi terhadap kepercayaan yang niscaya mendasari sains. Agama tidak dapat menambahkan apapun pada daftar penemuan ilmiah. Agama yang dianggap sebagai konfirmasi atas pengandaian iman yang menjadi sumber dar sains tidak akan merintangi malah mendorong sains. Dalam pendekatan konfirmasi ini agama dan sains tidak saling bertentangan, tetapi saling mengukuhkan, menguatkan dan mendukung seluruh kegiatan ilmiah tanpa kehilangan identitas masing-masing. Agama diperoleh dengan keyakinan, iman, percaya sedangkan sains berdasarkan pada bukti empirik. Secara ontologis atau hakikat keilmuan membahas tentang teori umum mengenai semua hal sedangkan sains memandang realitas sebagai sesuatu yang empiris, kalkulatif, dan verifikatif. Agama memandang realitas sebagai sesuatu yang bersifat metafisik, intuitif, dan spekulatif. Secara epistemologis (asal, sifat, karakteristik) membahas tentang pengetahuan paradigma sains, bersifat positivistik, emperik, dan rasional. Paradigma agama, bersifat, spritual, metafisi, dan moral. Walaupun berbeda dalam pandangan namun agama yang bersumber dari wahyu dipandang lebih tinggi dari pada akal manusia atau rasio. Dalam ilmu pengetahuan tidak dapat berdiri sendiri dalam melakukan upaya-upaya ilmiah. sains selalu berakar pada iman. Hal-hal yang tetap yang selalu mendasai ilmu dalah iman bahwa alam semesta adalah tertib dan hukum yang menyertainya rasional. Iman mampu membawa manusia menuju ke pengethuan yang komprehensif. Oleh karena itu, hal-hal yang harus diperhatikan dalam penemuan, agama memberikan dorongan agar sains terus berkembang namun harus sesuai dengan agama. Penemuan-penemuan sains yang bertentangan dengan agama harus dihentikan. Hal ini bertujuan agar tidak menghancurkan kesakralan agama sebagai sesuatu yang suci dan dijunjung tinggi.

Daftar Pustaka
John F. Haught. 2004. Perjumpaan Sains dan Agama Dari Konflik  ke Dialog. Bandung: Penebit Mizan.


Senin, 07 Maret 2016

Magelangan Ala Ulufi

Assalamu’alaukum teman-teman, bagaimana kabarnya hari ini? Senin pagi yang ceria! Terinspirasi dari menu makan pagi ini, yaitu nasi goreng bikinan sendiri, tak ada salahnya saya berbagi dengan kalian resep magelangan ala Ulufi. Heheheh….g nyambung memang, tapi menurutku, agak sama kok, yang membedakan, ada mienya. Sambil cerita dulu ya, awal makan magelangan, beberapa tahun yang lalu ketika mau makan, bingung, perut sudah semakin lapar. Akhirnya dengan beberapa teman, kita makan di burjo (ini juga lebih hemat). Pertama kali makan makanan ini, saya pikir, hemmmm…enak juga ya, saya lihat bagaimana cara bikinnya. Ya ampun, simpel banget. Aku juga bisa kayaknya  (sombong benget ya). Oke, beberapa hari kemudian, saya coba bikin. Rasanya malah lebih enak bikinan sendiri karena bisa sesuai dengan selera kita. Mau manis (emang kolak?), asin atau gurih. Tak usah berlama-lama. Yuk, kita intip proses pembuatannya.
Siapkan bahan terlebih dahulu. Ini untuk satu porsi ya teman-teman.
1.   Nasi putih
2.   Bawang putih 1 siung besar
3.   Bawang merah 1siung besar
4.  Cabai secukupnya (ini tergantung teman-teman suka pedas atau g)
5.   Garam secukupnya
6.   Gula secukupnya
7.  Telur satu buah
8.  Sayuran (bisa wortel, bayam, kobis, sawi) secukupnya
9.  Mie instan, bisa goreng atau kuah
10. Kecap
11.  Minyak goreng
Cara membuatnya
1.     Iris bawang putih, bawang merah, cabai. Bisa juga diulek
2.  Potong kecil-kecil sayuran, bisa salah satu saja, misal sawi. Ini tergantung kreativitas masing-masing, jika ingin lebih hemat ya satu saja.
3.     Rebus mie insatan, buang kuahnya, kemudian tiriskan
4.    Panaskan wajan dan minyak goreng, masukkan bahan no 1, goreng terus, jangan sampai gosong
5.    Masukkan sayuran, bumbu mie, goreng terus,  jangan lupa  perhatikan api, jangan terlalu besar, bisa-bisa gosong dan matang g sempurna. Luar gosong, dalam belum matang. Kecilkan saja apinya.
6.     Masukkan mie, aduk terus
7.  Masukkan nasi putih, kalau sudah agak panas, masukkan telur, aduk terus kemudian tambahkan kecap, gula, garam sesuai selera.
8.     Angkat dan sajikan dengan berbagai macam toping.
Tips:
1.   Pemilihan nasi diperhatikan, jangan yang lembek, sudah tidak berbentuk nasi apalagi bubur. Pilih yang pero (apa ya bahasa Indonesia yang pas) masih utuh butir nasinya. Yang intinya, kalau mau masak nasi untuk nasi goreng, pada awaktu pemasakan nasi, airnya jangan banyak-banyak.
2.   Pemakaian bahan dan bumbu sesuai dengan selera masing-masing. Karena saya tidak begitu menyukai banyak bumbu dan pedas, jadi sedikit saja. Mau ditambah penyedap juga tidak masalah. Sebenarnya penyedap bisa diganti dengan garam dan gula. Rasanya tetap enak kok.
3.    Memasukkan telur, bisa setelah bumbu digoreng, atau ketika sudah ada nasinya. Terserah
4.     Perhatikan nyala api, jangan terlalu besar
5.     Untuk toping dan sayuran, terserah teman-teman.
Untuk lebih mudahnya, ini analisis biaya yang dikeluarkan. Sayang, saya bukan ahli gizi, kalau misal ahli gizi, pasti sudah saya ukur berapa protein, kalori, karbohidrat yang terkandung di dalamnya. Harga untuk saat ini ya…
Telur 1500/ biji
Mie kalau yang kuah sekitar 2300
Nasi, 2500
Kecap 400
Bumbu , minyak dan sayur kira-kira 1500
Dan tenaganya…hehehe, perhitungan banget ya…
Belum waktunya, kalau saya mungkin tujuh sampai sepuluh menitan lah
Jadi totalnya kira-kira, 8200 an lah. Kalau kita beli, sekitar 7500 sampai 8000. Ukuran yang pas sebenarnya ketika beli, sesuai dengan modalnya.
Ok, gimana resep saya kali ini. Semoga bermanfaat
Wassalamu’alaikum wr. wb



Minggu, 06 Maret 2016

Tipe Orang Berdasarkan Pada Kecepatannya Menjawab Sms

Add caption
Mungkin ini pikiran konyol yang ada dalam benak saya. Buat renungan diri saja sih, seberapa sigap kamu terhadap orang lain. Kalau banyak orang meneliti untuk kepentingan ilmiah, saya juga meneliti untuk kepentingan evaluasi, instropeksi dan perbaikan diri. Penelitian ini belum tentu benar, namun anda juga bisa setuju untuk mendukung saya. Bukan bermaksud provokator, tapi setidaknya, saya ada temannya. Menurut saya pribadi (g tahu, sudah pernah diteliti atau belum) secara ilmiahnya ada beberapa tipe orang dilihat dari seberapa cepat menjawab sms. Kenapa saya memilih sms, g WA, line atau yang lainnya. Gampang saja jawabannya. Karena saya belum punya. Selesai kan? Tetapi  saya juga berpikir, kalau WA atau line itu, harus terhubung dengan jaringan internet, sedangkan sms, juga harus ada sinyalnya. Hehehehehe….sedikit agak eror..
Nah, tipe yang manakah kamu?
1. Orang yang menjawab sms dengan cepat. Tipe ini, mungkin adalah penjual pulsa, yang tidak mau membuat pelanggannya kabur. Sehingga  dia sangat cepat dalam menjawab sms kamu. Apalagi kalau pelanggannya banyak banget, bisa-bisa dia g bisa lepas dari HPnya. Kemana-mana bawa HP. Kamar mandi, makan, tidur, masak dan lain sebagainya.
2. Orang yang menjawab sms agak lama, kira-kira bisa satu, setengah jam-an lah. Bisa jadi tipe orang ini sibuker, orang penting atau malah g punya pulsa? Tetapi ada juga loh, yang jawabnya lama itu karena mikir mau nulis apa, mau jawab apa, bingung, apalagi kalau ditanya sesuatu sebenarnya dia juga g mau jawab. Bingung kan? Sama.
3. Orang yang menjawab sms lamaaaaaa banget saking lamanya. Mungkin dia orang pelupa, HP nya g aktif, ganti nomor atau hilang. Bisa jadi to? Pernah g tuh, sms teman, tanyanya sekarang, jawabnya besok. Adaaaaa ya…orang kayak gitu. Dan saya sudah pernah menemuinya. Kalau misal disms balik lagi, g dibalas juga. Oalah, ini orang maunya gimana.
Ok, sekarang, kamu tipe yang mana?

Membaca tulisan diatas, bisa membuat Anda agak stress bin mupeng. G mudeng sama sekali. Just kidding


Sabtu, 05 Maret 2016

Wanita Tidak Mau Dibilang Lebih Tua dari Umur yang Seharusnya


Add caption






















Setiap foto selalu membawa kenangan buat saya. Saya seperti merasa kehadiran mereka kembali. Masih terngiang jelas teriakan-teriakan mereka, tingkah lucu, bawelnya, canda tawa yang mewarnai perjalanan hidup yang tidak mungkin saya lupakan sampai saat ini. Ingat ketika mau foto ini, nyuri-nyuri waktu agar g dimarahin atasan, diomongin teman yang lain karena hobi berfoto (hahaha, itu masa muda saya, kayaknya sekarang saya jarang berfoto. Buktinya, di fb jarang kan, foto saya?). Buat saya, teman-teman ini luar biasa, dalam diri mereka memiliki keunikan yang tidak bisa ditemukan dalam orang lain. Sifatnya sama atau mirip pasti ada tetapi seseorang yang saya kenal dalam kehidupan, selalu memberi inspirasi. Kangen dengan mereka yang mungkin saat ini sedang berkumpul dengan keluarga, anak, orang yang mereka kasihi atau bahkan bekerja. Hemm….tidak apa-apa ya kawan.  Foto-foto ini saya ungggah karena rindu kalian, kangen dengan kalian, disela-sela kesibukan menanti jadwal pulang dan meeting yang itu-itu saja yaitu target dan kualitas. Aih, bikin saya tambah puyeng dan kadang bosan. Saya selalu tersenyum menyaksikan hal ini dan yang paling saya suka lakukan adalah menatap wajah dicermin, membandingkan dahulu dengan sekarang. Apakah ada yang berbeda dengan wajah saya? Gemukkah? Kuruskah? Cekung? Berjerawat? Keriput? Kantung mata? Aih, begitu repotnya sebagai perempuan (atau hanya saya saja?). Saya yakin bahkan haqqul yaqin (meminjam bahasa tasawuf yang kalau tidak salah artinya yakin dan percaya walaupun tanpa melihat (protes juga, saya bolos kuliah dan tidak tahu arti ini dan dikomplen oleh dosen, Pak Jun, terima kasih atas perhatiannya Pak, maksudnya tahu jika saya tidak hadir…hehehehe). Bagi perempuan (saya sendiri mungkin) resah jika dianggap lebih tua dari umur yang seharusnya. Setuju tidak nih dengan pernyataan saya?

Jumat, 04 Maret 2016

Nyuci Sendiri? Kenapa Tidak! (Hemat Ala Anak kos)

Siapa yang saat ini ngekos? Acungkan tangan! Hemmm…apakah teman-teman selalu mencuci bajunya ke laundry? Atau malah mencuci sendiri. Semuanya boleh-boleh saja. Terserah. Bagi yang mau ngirit, ya nyuci sendiri, kalau yang mau bagi-bagi ke saudara ya…laundry. Loh, kenapa g buka jasa laundry skalian aja? Hahaha, ngelantur.
Tetapi, kadang-kadang, kita g bisa memungkiri bahwa kehidupan kita diatas, kadang dibawah. Seperti juga saat kita punya uang. Kadang banyakkkkkk rezeki, kadang juga serrret. Nah, gimana tuh bagi teman-teman yang terbiasa menggunakan jasa laundry? Saat baju kotor bejibun, uang menipis, jatah dari orang tua belum dikirim. Pernah g terjadi pada kalian?
Sebelum semua itu terjadi, yuk kita benahi urusan sepele cuci mencuci ini. G masalah, sesibuk apapun itu, sebagai mahasiswa, lebih sibuk orang tua kita kan? Bahkan, menurut saya, mahasiswa itu banyak waktu luangnya. Bener g? Kita lebih mementingkan jalan-jalan daripada mencuci baju kita sendiri? Lebih sering kongkow-kongkow, ngobrol geje daripada meluangkan waktu buat nyuci? Padahal, mencuci baju itu g lama lho, kalau sedikit, perhari gitu.
Kalau alasannya males, semua orang punya sifat yang satu ini. Tinggal bagaimana aja sih ngelolanya. Saya tidak bisa membayangkan ya, kok bisa g nyuci seminggu, baru nyadar kalau g ada baju bersih yang dipakai untuk hari ini atau kuliah. Pernah g seperti itu? hihihihi
Ok, sebelum semua itu terjadi pada kita, usahakan ya…mulai hari ini, jangan menumpuk baju kotor sesibuk apapun aktifitas kita. Terutama nih, buat yang aktifis, harus bisa nyuri-nyuri waktu.
1.       Tetapkan satu waktu untuk mencuci pakaian. Ini penting. Pasang niat kenceng dan buang rasa malas. Hal ini tergantung dari teman-teman. Bisa pagi, sehabis kuliah, sehabis mandi, atau malam sebelum tidur.
2.       Jangan pernah menumpuk pakaian. Kalau mau menumpuk pakaian, minimal dua hari sudah cukup. Hemmm, jangan-jangan ada yang tipe numpuk pakaian kotor, nyuci satu kali seminggu. Katanya, biar capek sekalian. Sekarang dibalik deh mikirnya. Dengan mencuci sedikit lebih sedikit, terasa ringan, enggak capek, dan punya lebih banyak waktu luang, yang bisa digunakan untuk melakukan banyak hal. Bener g?
3.      Kalau terpaksa laundry, boleh, asal bener-bener g punya waktu dan punya uang. Hehehehe, ya iyalah, emang mau bayar pakai daun. Apalagi kalau selimut, sprei, atau barang-barang yang berat, tak ada salahnya menggunakan jasanya. Pilih-pilih juga jasa laundrynya, agar tidak kuciwa.
Sebenarnya , mencuci baju sendiri punya keuntungan yang banyak loh
1.      Melatih tanggung jawab. Ibaratnya nih, kita yang berbuat, dilempar ke orang lain. Kita yang makai, orang lain yang nyuci. Yah, walaupun kita bayar, tapi setidaknya uang laundry bisa buat jajan. Hehehehe…
2.     Melatih mandiri. Hayo ngaku? Yang dirumah sering dicuciin orang tua, atau asisten rumah tangga? Ketika kos, atau besok dewasa, kita bakal ngelakuin itu sendiri, apalagi kalau masih meniti karir (cie…cie…) buat bayar asisten kan mahal. Nah, sakit-sakit dahulu deh, mulai belajar ngatur diri sendiri, apalagi sekarang lagi mahasiswa, berapa lama sih kita jadi mahasiswa? g lama to? paling cuma empat lima tahun. Kecuali kamu punya uang yang banyak. Bukan dari ortumu loh, itu mah g bikin kita bangga.
3.     Lebih hemat. So pasti. Lebih hemat mana, beli diterjen atau laundry? Misal, beli diterjen lima belas ribu, itu bisa buat nyuci berhari-hari. Bandingkan kalau mencuci baju sehari rata-rata aja deh, sekilo, tiga ribu. Kalikan, hitung sendiri deh….
4.  Melatih disiplin. Ya toh. Managemen waktu terutama. Kapan harus mandi, menulis, membaca, mencuci atau ngerjain tugas.
5.    Bikin bangga. Iyalah, hasil kerja kita sendiri. Mulai dari milih pakaian, dari yang g luntur, cepat pudar, sampai yang g bisa ken air banyak-banyak. Coba kalau di laundry, semuanya campur, bahkan ada yang kena luntur to?
6.       Lebih bersih dan suci. Bener g sob? Kalau kita sendiri yang nyuci, bisa milih, membersihkan kotoran dari air yang mengalir, yang kotor bagian mana, harus dikucek, g boleh diperas  terlalu kencang dan sebagainya. Saya pernah ditegur oleh ayah mengenai hal ini. Beliau melihat saya mencuci dengan mencelupkan pakaian dari ember satu ke ember yang lain. Kata beliau, itu membuat najisnya g hilang. Mek jleb deh!
7.    Yang nomor tujuh ini sering dilakukan. Kalau teman-teman habis kegiatan berat, misal nginep di luar, outbond, atau apalah, segera setelah pulang cuci. Yah, capek-capek sekalian to? Kalau nodanya terlalu bandel, rendam dulu (tapi jangan sampai satu minggu baru dicuci, udah jamuran plus bau. Hiyyyy….jijik. Rendaman satu hari aja baunya minta ampun kok (hahahaha, ketahuan sering juga ngerendem baju lama.

Sekarang kekurangan memakai jasa laundry dan keuntungannya
1.       Cepet dan rapi. Iya, kan tinggal pakai. Udah disetrika, rapi, dan wangi. Selain itu, ada juga yang antar jemput. Wah, itu kayak anak kos udah tinggal di surga dunia. Hahahaha, lebay.
2.       Enggak ribet. Tinggal masukin baju ke laundry doang kan?
3.       Meringankan pekerjaan ketika lagi sibuk, apalagi selimut dan sprei yang super tebal.
4.       Berbagi untuk orang lain. Iya, seharusnya kita yah yang kreatif. Buka jasa laundry gitu.
Kerugiannya
1.       Kadang g rapi. Ada loh, yang habis di laundry di setrika ulang. Ini terjadi pada teman saya. Makanya pilah-pilih jasa laundry.
2.       Membuat kita malas.
3.       Kadang-kadang ada yang hilang, kelunturan dan g bersih. Sayang kan, kalau baju bagus, mahal, atau kesayangan hilang, luntur bahkan berwarna pudar? Karena kadang di laundry itu bercampur-campur, jadi resiko hilang itu besar.
4.       Boros jelas
5.     Belum tentu suci. Nah, ini juga yang diperhatikan oleh muslim seperti kita. Selain suci, badan juga pakaian to? Tapi tenang, karena ada kok laundry yang syar’i. Atau kita yang menciptakan?

Ok, gimana? Setuju dengan ide saya? Ambil yang baik, buang yang jelek ya….sekian, semoga bermanfaat. See you.

Kamis, 03 Maret 2016

Masih Harus Terus Belajar

Perjalananku kali ke daerah Bantul dalam rangka ujian pendampingan. Ternyata, hampir sama dengan jarak rumah Temanggung ke Jogja. Aku berangkat dari Jalan Kaliurang Km 13 pukul 14:50, sampai ditempat yang dituju pukul16:12. Hemmm….ternyata jauh juga. Dan aku salut dengan orang-orang yang istiqomah mendampingi masyarakat desa ini agar lebih produktif. Teman-teman saya tanpa dibayar, satu minggu sekali, semoga Allah memberikan balasan yang berlipat ganda. Amin. Jadi teringat diri sendiri. Apa yang sudah kamu lakukan, Ulufi? Ibu-ibu berjumlah sebelas orang , yang rata-rata berumur sekitar empat puluh sampai lima puluhan, memiliki usaha sendiri. Wow, keren!! Saat aku memasuki desa, didepan rumah, warung lotek, gado-gado, tahu guling, sebelahnya lagi, terima catering, dan disamping rumah yang aku tempati, usaha sablon.  Ada yang usaha laundry, bakpia isi tempe (bayangin, gimana rasanya), emping dan lain-lain. Aku bersama dengan dua orang teman diminta untuk memberikan kultum. Ini pertama kalinya aku berbicara di depan ibu-ibu. Sempat grogi juga. Tapi Alhamdulillah, ibu-ibunyawelcome terhadap kami, jadi groginya g kelihatan. Selama tujuh menit aku menyampaikan tentang doa, yang kemudian ada sesi tanya jawab. Waduh, ini di luar perkiraan. Tapi dibuat biasa saja supaya g kelihatan grogi.
 “Doa siapa yang paling sering dikabulkan oleh Allah”
Alhamdulillah pertanyaanya insya allah bisa aku jawab. Ada orang tua, orang yang terdhalimi, anak yatim, sebenarnya mau ditambah lagi tapi sepertinya segitu juga cukup. Sebenarnya jawaban ini banyak sekali ada dalam kepalaku. Tapi berhubung waktu juga sudah sore, jadi sedidkit saja. Nah, ibu ini masih mau bertanya lagi rupanya, akhirnya diperbolehkan.
 “Apa yang menyebabkan doa kita tidak terkabul, kan kita udah lama berdoanya?”
Hehehe, ehm, ini pertanyaan juga banyak jawabannnya mulai dari berbuat 10 dosa besar, sampai boleh jadi Allah belum mengabulkan doa kita karena bermacam-macam alasannya, mungkin doa itu sudah dikabulkan tapi dalam bentuk lain, tidak dikabulkan di dunia, tidak serius dalam berdoa, mamakan harta haram  dan sebagainya. Ternyata ibu-ibu disini kritis juga. Ada yang bertanya tentang fiqh kontemporer. Tentu saja yang menjadi sasaran aku, kalau teman yang lain g  bisa jawab, karena aku dari Pendidikan Agama Islam (tepuk jidat). Ada yang bertanya tentang riba, saham, yang kesemuanya itu mengarrah ke fiqh kontemporer, dan akan saya pelajari di semester ini. Ada juga ibu-ibunya iseng loh, menguji kedalaman pengetahuan kita (aduh, kaya udah pinter aja). Ada temanku yang ditanya “Sedekah itu yang terbaik kepada siapa?”
Aku sebenarnya udah punya jawaban, bahwa sedekah yang terbaik itu kepda saudara terdekat (keluarga kita) yang miskin. Tapi pertanyaan itu bukan buat aku, jadi aku cuma jawab dalam hati.  Dari Abu Said Al-Khudry Radliyallaahu 'anhu bahwa Zainab, istri Abu Mas'ud, bertanya: Wahai Rasulullah, baginda telah memerintahkan untuk bersedekah hari ini, dan aku mempunyai perhiasan padaku yang hendak saya sedekahkan, namun Ibnu Mas'ud menganggap bahwa dirinya dan anaknya lebih berhak untuk aku beri sedekah. Lalu Nabi Shallallaahu 'alaihi wa Sallam bersabda: "Ibnu Mas'ud memang benar, suamimu dan anakmu adalah orang yang lebih berhak untuk engkau beri sedekah." Riwayat Bukhari. Dalam alquran “Kepada anak yatim yang ada hubungan kerabat atau family” (Al Balad 15).  Nah, temanku ini jawabnya orang miskin, anak yatim. Trus ibu-ibuya ini menanggapi, “Saya pernah mendengar bahwa sedekah yang paling baik itu kepada keluarga (saudara terdekat). Tuh, kan. Hiks.
Hemmm….ini semua tamparan buat aku. Aku harus belajar lagi, harus mandiri, belajar menghadapi masyarakat. Semuanya heterogen. G bisa disamakan. Kalau di kampus, kita rata-rata memiliki tujuan, persepsi, umur yang mungkin hampir mirip. Tapi kalau disini, semuanya beda, lebih kompleks dan tentu saja lebih berpengalaman daripada aku. Thank God, you have given me this opportunity.


Rabu, 02 Maret 2016

Cerita Inspiratif (Part 2 habis)

Cerita yang ketiga berasal dari seorang dai yang sangat terkenal di sebuah kota. Ceramahnya sudah sampai dimana-mana. Dia menjadi dai yang sangat kondang. Sang dai ini memiliki anak yang sangat nakal luar biasa. Si anak tidak pernah menjalankan shalat lima waktu, bahkan berani membentak-bentak, berkata kasar kepada orang tuanya. Orang tuanya hanya bisa menggelengkan kepala melihat tingkah laku Sang Anak. Ayahnya berdakwah kemana-mana namun keluarganya sendiri belum bisa di dakwahi. Dia sedih dengan hal ini.
Suatu hari, Sang Dai ini bertemu dangan kawan masa kecilnya yang berprofesi sebagai tukang becak. Si tukang becak mengajak kyai ke rumahnya. Layaknya seorang teman yang jarang bertemu, mereka mengobrol cukup lama. Tidak terasa sampai sore hari, daterdengar suara adan dari masjid .
Allahu Akbar Allahu Akbar
Tukang becak ini ternyata memilki anak yang masih berusia kecil, sekitar tujuh tahun. Sang anak berkata kepada bapaknya “Bapak,  sudah adzan, yuk,  sholat ke masjid dan ajak Pak De (pak kyai tadi) ke masjid”
Sang dai pun terkejut, terharu dan menitikkan air mata. Terbayang pada anaknya yang dirumah, yang tidak pernah shalat. Sang Dai pun penasaran. Apa rahasia tamannya sehingga anaknya yang masih kecil sudah biasa shalat di masjid, tanpa disuruh. Sang tukang becak pun bingung, namun dia bersedia membeberkan rahasianya bahwa dia hanya selalu berdoa
14:40
Ya Tuhanku, jadikanlah aku dan anak cucuku orang-orang yang tetap mendirikan shalat, ya Tuhan kami, perkenankanlah doaku. (QS: ibrahim: 40)
Tidak sedikit kita jumpai, bahkan di lingkungan kita sendiri, keluarga kita, anak seorang kyai, memilki pondok pesantren, anaknya preman. Tidak sedikit juga, anak seorang guru yang terkenal kasholehannya, anaknya pecandu narkoba.

Saya jadi teringat dengan pesan dari ustazd bahwa memang benar, iman itu tidak pernah bisa diwariskan. Bahkan kepada anak. Ingat kisah Nabi Nuh, Abu Jahal yang memilki seorang anak yang membela Islam, bahkan nabi kita sendiri, pamannya, yang merawatnya, pembela dakwahnya, meninggal dalam keadaan tidak memeluk Islam. Laa haula walaquwwata illa billah.
Cerita yang terakhir adalah cerita dari kakak tingkat ustadz saya di pesantren. Sebut saja namanya A. A ini adalah seorang anak yang sangat cerdas dan sangat pintar. Jika diberi pelajaran langsung “nyantol”, cepat ingatannya dan tidak mengalami kesulitan apapun dalam belajar. Wajar jika kemudian Sang Kyai menyayanginnya. Kemudian tanpa tanggung-tanggung memberikan amanah mengajar ketika beliau berhalangan. Jadi, ketika pak kyai tidak bisa mengajar, maka akan digantikan oleh Si A ini. Karena kecerdasannya pula, maka dia bisa menghafalkan alquran dengan waktu yang singkat. Jika teman-teman lain butuh enam, empat, lima tahun, maka A bisa menghafalkan dalam waktu dua tahun saja.
Setelah beberapa tahun menimba ilmu di pesantren, ia memutuskan untuk pulang ke kampung halamannya. Berpamitan kepada Sang Kyai. Namun sang kyai merasa keberatan, beliau meminta agar murid yang cerdas ini membantunya dalam mengajar. Tapi keinginan A tidak bisa dicegah dan sudah bulat untuk pulang kampung. Sang Kyai merestui kepulangannya akhirnya.
Kata ustadz saya, kebiasaan merokok dan minum kopi memang sudah ada di pesantren. Merokok ini untuk menemani begadang dalam rangka murojaah (mengulang hafalan). Kabiasaan ini tentu saja berpengaruh dalam kehidupan di luar pesantren. Karena tuntutan kehidupan, kebutuhan yang semakin tinggi, Si A, yang telah pulang kampung ini memilih teman yang salah dalam bergaul. Pencuri, perampok, penjembret adalah teman-temannya. Singkat cerita, Si A, karena sangat cerdasnya, karir di dunia hitamnya juga semakin meningkat. Bahkan menjadi pemimpinnya. Dari yang mulanya penghafal alquran menjadi pemimpin pencuri. Na’udzubillahimindzalik.
“Man, kamu mau beli VCD player? Harganya satu juta” tawar A kepada ustadz saya
“Lho, kok murah” kata ustadz saya curiga
“Ah, barang beginian di rumah banyak” jawabnya
Ustadz saya heran karena saat itu, harga VCD player harganya masih mahal, sekitar tujuh jutaan. Kebiasaan sebelum lebaran, murid-murid pesantren itu adalah sowan atau berkunjung ke tempat pak kyainya (pondok pesantren). Begitu juga dengan Si A. saat itu, di depan rumah kyai, yang sedang menerima tamu. Kebetulan, tamunya ini membawa motor. Motornya di parkir depan rumah dan mungkin karena lupa, kunci motornya masih di motor. A yang melihat kesempatan ini, yang sudah terbiasa mencuri, berniat untuk mencuri sepeda motor tersebut. Ketika sedang menuntun sepeda motornya, sang pemilik keluar dan mendapati motornya sedang digiring orang, spontan teriak “Maling!! Maling!!”
Tak diduga, banyak warga yang mendengar teriakan itu dan mengejar maling. Si A lari pontang-panting menyelamatkan diri. Sampai di sebuah sawah yang sedang ditanami padi yang masih hijau. Dia bersembunyi disana. Badannya belepotan penuh dengan lumpur. Tentu saja dia tertangkap. Satu orang, di cari orang sekampung, ditempat yang sempit pula, tentu saja mudah ketemu. Akhirnya, Si A ini di seret ke kampung, diikat di pohon kelengkeng, dan dipukul kepalanya. Pukulan pertama, tepat di kepala bagian kbelakang yang langsung membuat A mengucurkan darah dari hidungnya. Dengan sabetan clurit dibagian perutnya, isi perut A keluar semua. Tidak tahu, A mati atau tidak.
Saya ngeri membayangkan, mendengar dan menuliskannya. Saya tidak bisa membayangkan.
Saat ini, ada kita jumpai, orang-orang yang rajin beribadah, khusyuk, menjaga pandangan, memiliki integritas tinggi, tiba-tiba beberapa tahun kemudian, kita mendengar beritanya dia dipenjara karena kasus korupsi.
Ada saat dimana kita mendengar teman sepengajian kita, guru kita, yang dahulu kita hormati, ternyata telah melanggar agama yang membuat kita geleng-geleng kepala dan tak habis pikir.
Ada lagi, kita mendapati, orang yang kita hormati, kagumi karena kesantunan akhlaknya, ketawadukannya, beberapa tahun kemudian menjadi buronan, di penjara karena berbagai kasus.
Kita tidak pernah tahu bagaimana perjalanan hidup kita. Akhir kehidupan kita. Kita tidak tahu, apakah yang saat ini, kita masih bisa memeluk agama yang kita cintai, tiba-tiba….ah, membayangkannya saja saya tidak sanggup. Kita tidak pernah tahu, kita yang saat ini bisa istiqomah shalat lima waktu, boleh jadi…..saya tidak sanggup untuk menuliskannya.
Allah pemilik segala hidayah. Dia akan memberikan siapa saja yang dikehendakinya. Mencabutnya, mengeluarkannya.
رَبَّنَا لَا تُزِغْ قُلُوبَنَا بَعْدَ إِذْ هَدَيْتَنَا وَهَبْ لَنَا مِنْ لَدُنْكَ رَحْمَةً إِنَّكَ أَنْتَ الْوَهَّابُ (8) رَبَّنَا إِنَّكَ جَامِعُ النَّاسِ لِيَوْمٍ لَا رَيْبَ فِيهِ إِنَّ اللَّهَ لَا يُخْلِفُ الْمِيعَادَ (9) 
“Ya Rabb kami, janganlah Engkau jadikan hati kami condong kepada kesesatan sesudah Engkau beri petunjuk kepada kami, dan karuniakanlah kepada kami rahmat dari sisi Engkau; karena sesungguhnya Engkau-lah Maha pemberi (karunia)”.(QS: al imran 8-9)

يَا مُقَلِّبَ الْقُلُوْبِ، ثَبِّتْ قَلْبِي عَلَى دِيْنِكَ
Artinya: “Wahai Dzat yang membolak-balikkan hati, teguhkan hatiku di atas agama-Mu.” (HR. Ahmad dan at Tirmidzi)
Empat cerita diatas membuat saya merenung. Sudah baikkah doa saya? Atau malah saya tidak pernah berdoa. Bagaimana dengan orang tua saya?
Lewat tulisan ini saya ingin sekali berbagi pada teman-teman semua. Ambillah ketika kau mendapatkan kebaikan di dalamnya dan buanglah ketika kau memperolehnya.
Quote: Jangan Lupa Berdoa yang Baik dan Komplet