Selasa, 11 Oktober 2016

Perjalanan Ke Singapure (Part 2)


persiapan uang dalam bentuk $ Singapore
Setelah berbagai persiapan dilakukan, diantaranya adalah:
1.     Tidur cukup. Nah, ini yang kami lakukan. Mengingat saya dan teman-teman yang lagi g sehat, Sabtunya (untung libur, kita ngajar senin-jumat), kami tidur untuk mengembalikan kesehatan. Yah, walaupun tetap aja agak masih g enak-enak gitu. Tapi mikir lagi, udah sampai sini, dikuat-kuatin deh. Dannnn…..tidur, itu obat yang bisa membuat kami menjadi sehat kembali.
2.     Uang. Nah, ini yang paling urgen. Untungnya, kami sudah nukerin uang nih di KL Central uang sebanyak Rp 1.500.000 buat bertiga. Yang kalau dijadiin dolar, sedikit sekali. Sedih dengan uang rupiah kita. Hiks. Kalikan saja, kalau misalnya $ Singapore 10.000 di Indonesia. Itupun, kami g boleh nukernya dari rupiah ke dolar. Bisanya, dari ringgit ke dolar. Alamak….hitung sendiri juga yah….kalau satu ringgit itu sama dengan Rp 3.200 lah. Itu aja, saya g bawa uang dalam bentuk rupiah, saya hanya bawa uang rupiah sekitar Rp 35.000. Pinjam dulu punya Pipit, Rp 500.000. Makasih ya, Pit.
3.     Baju ganti
4.     Makanan dan minuman. Nah, ini yang paling banyak. Alhamdulillah, sehari sebelumnya, kami sudah dikasih coco crunch, susu, kue bolu, beras, dan lauk daging bumbu kurma oleh Ibu Ita. Trima kasih ibu. Jadinya kami tinggal ngangetin dan masak nasinya saja. Tetapi malang teman-teman, karena susu dan coco crunchyna g disimpan, jadinya ada yang ngambil. Huhuuuhuhuhu…coco crunch nya sih masih banyak, tapi susunya? G dikembaliin ke kulkas, jadinya basi. Ya sudahlah, bukan rezeki kami. Dan akhirnya beli yang baru. Minuman juga bawa banyak. Kami bagi-bagi tugas nih, ada yang bawa makanan dan minuman.


5.     HP, power bank. Buat selfi-selfi, foto-foto. Kami g mau nih, disana low bat, g ada sinyal karena kehabisan pulsa, dan akhirnya g bisa mengabadikan moment yang sepesial itu. So, udah siap-siapin nih.

6.     Sebenarnya masih banyak yang perlu disiapkan termasuk obat-obatan pribadi dan juga doa. Tapi saya kira ini sudah cukup ya teman-teman.
 (bersambung)

Perjalanan ke Singapure (Part 1)


Ikon Singapore 

Di blog kali ini, saya akan menceritakan perjalanan saya pergi ke Singapore sekitar satu bulan yang lalu.
“Hemmm…mumpung ke luar negeri, Malaysia, jalan-jalan ah, ke Singapure. Deket kok” itu adalah salah satu impian saya untuk bisa ke luar negeri. Impian nomer yang keberapa puluh kali, dan itu Alhamdulillah Allah mengabulkan lebih cepat dari yang saya bayangkan.
Buat saya, sebentar g papa, yang penting sudah pernah berkunjung ke negara Singa itu. Tapi, masih ingin bisa kesana lagi. Semoga, amin. Menikmati yang benar-benar menikmati perjalanan, tempat-tempat wisata, dan tidak terburu-buru oleh waktu seperti yang saya alami bersama teman-teman. Rasanya campur aduk, senang, bahagia, sedih, g nyangka dan lain-lain.
Bulan Agustus 2016, saya mendapat amanah dari kampus untuk melakukan tugas PPL internasional di Malaysia (untuk bagian ini, saya akan menceritakan suatu saat nanti Insya Allah). Satu bulan di negeri Jiran, keinginan saya dan teman-teman untuk bisa jalan-jalan ke Singapura semakin kuat. Bahkan saya sendiri, bermimpi pengen juga ke Thailand. Tapi yah, karena belum diberi kesempatan, ya sudahlah. Dan semoga, suatu saat nanti bisa kesana. Amin.

Berbekal semangat 45, kami bertiga, saya, Ulufi Khasanah, Fatihatul Muthmainnah biasa dipanggil Fatiha, dan Nisa Havidza biasa dipanggil Nisa atau Pipit, mahasiswa UII jurusan PAI memberanikan diri untuk bisa menjajaki bumi Singapore yang katanya bagus, bersih, rapi, tertib dan baik-baik saja yang kami dengar. Dan kenyataannya, memang begitu kok. 

ini kami bertiga, Ulufi, Fatiha, Pipit
Sabtu, 27 Agustus 2016 menjadi hari dimana kami telah merencanakan untuk pergi ke Singapure. Persiapan apa yang kami lakukan? Hemmmm, agak banyak. Maklum, saya mendengar, disana mahal-mahal, jadinya kami berniat akan membawa makanan dari Malaysia untuk bekal di perjalanan. Sebenarnya, kondisi saya dan teman-teman, saat itu dalam kondisi tidak fit. Mengapa bisa begitu?
Suhu udara yang panas di Malaysia, jam tidur, pola makan yang tidak teratur, jarang makan sayur, buah, juga kondisi di dalam, terutama ketika kami tidur, dibawah AC dan kipas angin yang g pernah mati, membuat kami bertiga menjadi agak sakit. Tetapi Alhamdulillah masih bisa jalan, mikir, guyon-guyon, ngebully dan lain sebagainya. Cuma kami agak sedikit flu, pusing dan batuk-batuk. (bersambung) 

Kamis, 06 Oktober 2016

Pinter tapi Bermental Lemah


Saya menulis topik ini karena ternyata banyak yang tidak sadar karenanya. Termasuk saya sendiri kadang seperti itu, walaupun saya belum pintar/
Kasus 1
Seorang teman yang memilki kecerdasan dan kepintaran yang luar biasa, juara paralel se SMAnya. Mendapatkan beasiswa atas kepintarannya. Tidak pernah bayar SPP dan uang gedung. Namun memiliki sifat tidak pede untuk berinteraksi dengan orang lain. Mau melakukan A, takut. B takut juga. padahal, itu adalah sesuatu yang sifatnya urgen. Sesuatu yang jika tidak dilakukan, akan berimbas pada nilai akademiknya. Bisa jadi malah membuatnya tidak lulus. Dia tidak berani untuk menyampaikan pendapatnya. Tidak berani untuk berterus terang dengan masalahnya. Ibarat sebuah gong, dia tidak bisa bunyi jika tidak dipukul.

Kasus 2
Mahasiswa yang memiliki kecerdasan biasa saja. Namun kemampuan komunikasi, diplomasi hingga kemampuan non akademik tidak diragukan lagi. Orang mengenalnya sebagai pribadi yang humble, friendly, mampu bergaul dengan siapa saja. Bahkan dia lebih terlihat pinter daripada teman yang kasus 1. Apa pasal? Dia berani untuk mencoba, berani berbicara, berani meluruskan jika ada yang salah, berani untuk tampil dan menyesuaikan.
So, kita tipe yang mana? Saya yakin banyak diantara kita yang menemukan kasus diatas. Sampai-sampai saya berani mengatakan
 “Kamu itu pinter banget, tetapi sayang kamu itu pemalu yang tidak pada tempatnya”
Semangat pagi, salam guru professional!!



Selasa, 04 Oktober 2016

Iya dan Tidak


Pagi-pagi dapat inspirasi ini
Mau atau tidak. Pilihan yang gampang-gampang simple. Loh kok gitu. Emang iya, mau jawab iya atau tidak itu emang susah. Mengapa? Karena ini menuntut pertanggung jawaban dari jawaban iya dan tidaknya itu.
Ada beberapa orang yang emang sulit untuk mengatakan hal ini. Tetapi setidaknya saya belajar banyak hal dari orang-orang disekeliling saya untuk bisa lebih tegas terhadap diri sendiri dan juga g membuat orang lain menuggu. Jika hal ini dibiarkan, maka dampaknya akan terasa pada kita juga. misal, kita diberi keputusan untuk mengatakan ya pada hari Rabu, maka sebisa mungkin penuhi hal itu. Jika tidak, akan membuat kita menjadi pribadi yang tidak dapat dipercaya. Dan saya, sedang belajar tentang hal itu. tulisan ini, sekali lagi tidak menunjukkan saya lebih baik, namun adalah pengingat buat saya yang masih banyak kekurangan dalam semua hal. Dan berusaha untuk menuliskannya, berbagi ilmu tentang pengalaman hidup.
Misal, kita ditawari suatu pekerjaan, itu sangat sesuai dengan bidang kita, namun ragu untuk mengambilnya. Alasannya adalah takut tidak bisa menguasai, takut gagal dan takut-takut lainnya. Akibatnya, kita terlalu lama untuk berfikir sehingga peluang yang seharusnya di depan mata bisa hilang.  Dan jawaban dari orang yang menawari kita adalah “Kamu terlalu lama mikir, banyak alasan, aku mending cari yang lain saja, kan peluang itu bisa dipelajari, learning by doing istilahnya”
Mak jleb banget itu….kalau sudah gitu
Orang hanya butuh jawaban mau atau tidak. Masalah nanti kita bisa survive, itu adalah hal yang menjadi konsekuensi dari apa yang telah dipilih. Setidaknya jangan membuat orang menggantung dengan jawaban kita, berbelit-belit yang membuat orang enggan untuk menawarkan lagi pada kita.
So, yuk kita berbenah. Salam guru profesional

Akhirnya, Skripsi Juga

Hore…akhirnya skripsi juga
Hampir di ujung masa studi. G ada satu tahun lagi. Semoga.
G kerasa udah hampir empat tahun saya menghuni kota Jogja, kota yang saya impikan untuk bisa menimba ilmu. Masih ingat dalam benak saya, pertengahan 2013, saya bercita-cita ingin bisa mengenyam pendidikan di kota yang selalu memberikan saya kerinduan untuk bisa menetap dan tinggal disini. Amin. Mohon doanya.
Ada banyak hal yang saya dapatkan dan juga banyak hal yang belum saya dapatkan. Namanya manusia, dia tidak pernah puas terhadap apa yang didapat. Dalam hal positif ya…sehingga membuat dia bergerak- maju, terus dan bergerak tidak mau berhenti.
Dan…Insya Allah, 2017 April (doa,doa) ga apa-apa. Kata Ustadz Yusuf Mansyur, salah satu ikhtiar doa itu diucapkan terus menerus. Dan itu adalah ikhtiar saya. berharap orang lain mendoakan. Mengapa? Karena kita tidak tahu, doa mana yang diijabah oleh Nya. 

Puyeng juga mikir skripsi. Dan berusaha g puyeng, motivasi diri juga. Semoga sesuai dengan target. Amin. Tetap semangat. Salam guru professional.

Cocok dan Tidak Cocok

Dalam berinteraksi dengan sesama, adakalanya kita mengalami yang namanya kecocokan. Kecocokan dalam hal apapun. Kita bisa cocok dengan orang lain karena alasan banyak hal, diantaranya:
1.    Kesamaan hobi dan kesukaan. Sama-sama suka ngobrol, sama-sama suka tidur (loh), sama-sama suka masak, sama-sama suka membaca buku. Rasanya, kalau sudah dengan orang yang hobinya sama itu, haduhhhhh….itu bicara berjam-jam sampai lupa waktu juga enak aja. Maunya g berhenti untuk melakukan hal yang disukainya.
2.    Kesamaan pandangan, visi, misi dan tujuan. Hehehehe, ini agak berat. Tetapi setidaknya, hal ini yang kadang orang lebih banyak nyambungnya ketika ngobrol. Kalaupun ada perbedaan pendapat, itu bisa diatasi karena memiliki tujuan yang sama. So, enak banget ketika ketemu dengan orang yang sama dengan kita kayak gini.
3.    Senasib sepenanggungan. Nah, kalau yang ini, sama-sama sedang, telah atau akan menjalani -masa bersama. Misal, sama-sama mau daftar UII bareng, jadinya akrab. Sama-sama ketahuan nyontek dan dihukum, hehehhehe, atau sama-sama diterima di tempat kuliah yang sama, atau bahkan senasib g punya uang. Nah, lho..
Adakalanya, ketika berteman, kita akan merasa ketidakcocokan. Itu sudah pasti. Coba deh lihat, dua orang yang temenan udah lama, atau yang kemana-mana mesti berdua. Pasti mereka adakalanya g cocok. Tetapi, tetap saja tuh, mereka bisa bersama. Itu karena adanya saling menghargai dan pengertian.
Apakah berteman baik itu, harus semuanya tahu? Harus semua rahasia kita dibeberkan ke mereka yang kita anggap sebagai teman baik? Buat saya, tidak ada yang namanya sahabat dalam kamus saya. Ihhhhh, sadis banget ya….memang. Karena, buat saya, sahabat itu orang yang luar biasa dan tidak ada. Loh…
Tenang…jangan marah dulu. Jika tidak ada sahabat dalam kata pertemanan saya, maka ada yang namanya teman baik. Itulah kata yang pas buat saya menyebutnya. Mengapa demikian? Sahabat itu orang yang perfect menurut saya (padahal tidak ada yang perfect di dunia ini, kecuali yang Maha Perfect). Makanya saya pilih teman yang baik saja ….
Saya memiliki teman-teman yang baik dalam kehidupan ini. Dari mulai TK sampai sekarang saya punya. Tentu saja mereka itu memiliki karakter yang unik dan spesial manurut. Namanya teman, adakalanya sudah tidak mengalami kecocokan. Misal nih, teman saya SMP dulu, kok g cocok lagi ya kalau ngomong, udah beda, dia berubah, g kayak dulu lagi.
Asal teman-teman tahu aja, kita hidup di tempat yang berbeda, latar belakang berbeda, mindset kita juga udah berubah. Itulah yang membuat kita udah g cocok lagi sama mereka. Namun bukan berarti putus silaturahim kan?
Dan, apakah kita berteman baik dengan seseorang, ketika kita cerita dengan seseorang, wajib bagi kita untuk menumpahkan isi hati kita? Tidak kan?
Ada kalanya, ketika berteman itu, rahasia kita tidak diungkapkan semua. Misal, berteman dengan A, karena saya nyambung kalau cerita tentang makanan, berteman baik dengan B karena saya nyambung kalau cerita tentang lemari, misalnya. Dan saya tidak bisa cerita tentang lemari dengan A karena saya lebih enak, nyambung dengan B. Makanya, ada banyak teman dekat dengan berbagai macam karakter yang bisa kita curhatin dengan berbagai macam topik. So, saya berusaha untuk tidak memaksa seseorang untuk bercerita tentang sesuatu hal jikalau saya bukan teman yang cocok untuk mengobrolkan tentang itu. Wajar, kalau misalnya saya tahu A tentang makanan saja, bukan lemari.
Oleh karena itu, jika ada teman yang mengatakan, “Oh, jadi begitu, kamu sekarang sudah g cerita lagi masalah itu sama aku, kamu g percaya sama aku, dan aku tahu itu dari orang lain?”
Buat saya, simple. G masalah….selama saya g memaksa dia untuk cerita, selama dia mengannggap saya orang yang masih dipercaya untuk cerita topik yang lain, nyaman dengan saya, okelah. Tidak ada yang lebih indah dalam sebuah interaksi kecuali rasa percaya. Dan berusaha untuk tidak merusak kepercayaan.
Salam guru professional!!



Sabtu, 01 Oktober 2016

Metamorfosis

Metamorfosis.
Berbicara tentang metamorphosis, otak saya langsung tertuju pada daur hidup kupu-kupu, nyamuk dan kecebong. Itu pelajaran IPA kelas berapa ya? Saya lupa. Menurut internet, hehehe, Metamorfosis adalah suatu proses perkembangan biologi pada hewan yang melibatkan perubahan penampilan fisik dan/atau struktur setelah kelahiran atau penetasan. Perubahan fisik itu terjadi akibat pertumbuhan sel dan differensiasi sel yang secara radikal berbeda. Nah, tu. Itu untuk hewan. Boleh juga digunakan untuk manusia. Perubahan manusia dari masa ke masa.
Dan….saya suka melihat perubahannya. Bentuk muka saya kayak apa ya? Tambah cantik, segar, jerawatan, atau….apa gitu. Begitu juga hidup, saya sekarang sudah jadi apa? Kayak apa? Seperti yang saya impikan atau malah sebaliknya….
Hemmm, saya sadar bahwa kita akan selalu mengalami perubahan dalam hidup. Ambillah pelajaran dari metamorfosis. Kalau g berubah, maka akan binasa. Berubah dalam hal-hal tertentu ya, bukan berubah dalam hal yang prinsip.
Saya jadi teringat salah satu chat an teman, baru kemarin kita ngomongin tentang sms, telpon dan internet. Bahwa jika kita masih saja bertahan dengan kita yang dahulu, maka akan tergilas. Sekarang jamannya internet yang semuanya serba canggih. Saya yang masih gaptek banget harus bisa menyesuaikan. So, metamorfosis yang sempurna, tanpa mengabaikan prisnsip-prinsip. Selamat pagi. Salam guru professional!!!