Senin, 13 Maret 2017

Munaqosah

Gimana nih keadaannnya? Apakah sudah menyelesaikan skripsi? Atau kalau mahasiswa semester tua kayak saya, pertanyaannya adalah. Gimana skripsinya? Rencana mau kerja dimana setelah ini? Hhhhhhhh....dan jawabannya adalah ooooteeeeweee skripsi. Hihihihihii....dan, pertanyaan itu yang dihindari oleh saya dan kawan-kawan. Padahal itu bentuk perhatian adik-adik, atau orang-orang yang berada disekitar kita terhadap kita yang sedang menjalani sebuah fase tertentu. Ambil positifnya ajah..gitu kali.
Nah, kali ini, saya akan posting administrasi yang perlu disiapkan untuk proses ujian munaqosah/pendadaran. Diantaranya adalah
1.    Permohonan ujian skripsi yang nantinya akan ditandatangani oleh kita, dosen pembimbing skripsi  dan pihak akademik.
2.   Transkip nilai IPK sementara. Ini bisa diperoleh di akademik. Jangan lupa minta tanda tangan pada Ka Prodi dan dosen pembimbing akademik.
3.   Surat keterangan teori. Maksudnya adalah, surat yang menunjukkan bahwa kita sudah tidak mengikuti kuliah di kelas. Kalau di FIAI, kapan saja bisa tutup teori, tetapi di fakultas tertentu, hal ini dibatasi tanggalnya. So, bagi teman-teman dari jurusan selain FIAI, silahkan tanya infonya di bagian akademik.
4.   Fotocopy kartu mahasiswa 2 lembar
5.   Fotocopy akta kelahiran dilegalisir 2 lembar. Nah, ini yang mesti kita persiapkan dengan sebaik-baiknya, karena kita harus pulkam seperti saya misalnya. Kalaupun harus ngurus dan pengen simple, pake jasa notaris juga bisa kok. 1 lembarnya bisa 15 ribu rupiah. Tapi tetep aja, harus bawa yang aslinya. Kalau kita ngurus di tempat tinggal sendiri, g bayar alias gratis. Mau legalisir berapa aja juga boleh. Dan syaratnya mudah, hanya bawa yang asli dan fotocopy berapa banyak yang mau dilegalisir. G pake pendaftaran, paling Cuma ngantri aja. Itu kalau di daerah saya ya. Temanggung, soalnya, beda daerah, beda peraturan.
6.   Fotocopy ijazah SLTA dilegalisisr 2 lembar. Proses ini juga gratis, cepat dan mbak-mbaknya ramah.”Makasih Mbak Ari”. Itu kalau di almamaterku MAN Temanggung.
7.   Fotocopy sertifikat KKN dilegalisir 2 lembar. Nah, kalau ini, krena nilai KKN belum keluar jadinya saya tidak pake surat ini.
8.   Bukti lulus BTAQ. Ini bisa dilihat di transkip nilai.
9.   Fotocopy sertifikat CEPT dari cilacs yang telah dilegalisir 2 lembar. Untuk proses ini, teman-teman harus tahu bahwa ketika harus legalisir di Demangan, kita butuh satu kali 24 jam sedangkan di cilacs UII atas 2 x 24 jam kalau tidak salah.
10.                Itu di dalam foto direvisi. 4 bendel skripsi.
11. Pas foto berwarna terbaru 3 x 4 sebanyak 4 lembar
12.                Pas foto berwarna terbaru 4 x 6 sebanyak 7 lembar. Oh ya teman-teman, ada beberapa peraturan terkait dengan foto ini, bagi laki-laki, harus pakai jas dan dasi. Dan bagi perempuan, pakaian formal dengan semua bacground biru UII dengan kualitas foto yang bagus. Oleh karena itu, saran saya sih mending kamu foto di studio. Hanya 25 ribu rupiah saja
13.                Bukti lunas uang kuliah ke 1, 2, 3, 4 (50%). Maksudnya adalah, kuitansi pembayaran angsuran. Kalau ternyanta hilang, bisa kok minta lagi di rektorat atau print dari unysis kamu.
14.                Bukti lunas biaya bimbingan dan munaqosah skripsi. Buat saya, untung masih saya simpan. Ternyata ini perlu juga. Hehhehehhe........ kalau misalnya hilang, bisa minta lagi kok ke rektorat.

Semua itu bisa kalian dapatkan di akademik. Welll, saya pikir sudah cukup jelas ya penjelasan saya tentang administrasi munaqosahnya. Dan selamat munaqosah, semoga lancar. Amin.   

Sabtu, 11 Maret 2017

Gosong


Bukan satu dua kali saya memasak sampai gosong. G sengaja sih. Kebetulan aja. G fokus. Wkwkwkwkkw. Alasan aja.
Tahu, pernah dengar kalau perempuan itu punya kemampuan multitasking daripada laki-laki. Maksudnya gini, perempuan bisa mengerjakan banyak pekerjaan dalam satu waktu. Misal, sambil masak, juga nyuci, nulis. Loh....
Ceritanya nih, lagi ngangetin ayam buat makan pagi. Kan kemarin bikin soto ayam. Nah, kuahnya lumayan masih banyak, dan kebetulan ayam gorengnya belum begitu empuk sehingga punya pikiran buat nyeburin ayam ke kuah soto sisa. Eh, ndilalah, karena pengen multitasking itu tadi. Sambil menyelam minum air. Eh, malah gosong. Sambil dengerin maiyahan Cak Nun, rapihin file di laptop yang berbulan-bulan g rapi, hiks, nunggu nasi masak dan ngangetin ayam tadi. Malah berakhir item.
Awalnya kok, bau-bau sangit gitu. Apa ya bahasa indonesianya sangit.
G nemu bahasa indonesianya. Makanya bahasa jawa itu beda banget, rasanya lebih mengena.
Aku langsung lari-lari ke dapur dan mendapati manci buat ngangetin udah hitam. Padahal apinya super duper kecil dan g lama waktunya. Kok yo udah gosong. Untung ayamnya masih bisa deselamatkan. Udah g ada lagi kuahnya. Aku ambil aja ayamnya dan rasanya, mantap malah, g bau sangit, bumbu lebih meresap dan empuk banget sampai tulang-tulangnya. Wkwkwkwkwkwk....

Alhamdulillah....itu yang bisa saya ucapkan. Walaupun nanti ada pekerjaan menggosok manci yang udah item agak lama. Wes rapopo. 

Jumat, 10 Maret 2017

Diary Opin (part 1)

Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Hey teman-teman ulufi, gimana kabarnya? Semoga sehat ya, dan terus Istiqomah dalam menjalani kehidupan ini. Okeeee.....lanjut, kali ini saya akan membuat tulisan. Judulnya Diary Opin. Bukan berarti ini tulisan tentang diri saya. Bukaaannnn. Hiks. Inspirasinya dari manapun, dan, siap-siap aja yah, bisa jadi, kamu masuk dalam deretan inspirasi saya selanjutnya. Selamat membaca Diary Opin part 1.
Kalaupun ada kritik dan saran, silahkan hubungi saya di alamat email ulufikhasanah88@gmail.com, bisa koment dibawahnya, lewat fb Ulufi Khasanah Hashim, dan twitter Ulveekha.

Diary Opin (part 1)
Lagi-lagi si opin bingung dengan keinginannya sendiri. Beberapa bulan ini, keinginan pindah dari kos yang lama semakin membuncah saja. Ibarat air lepas dari bendungan. Meluber kemana-mana. beberapa alasan pindah kos yang menurutnya perlu dianalisis dengan berbagai macam pendekatan.
1.    Karena kos yang lama lebih mahal
2.   Kos lama terlalu banyak orang yang dikenal, maksudnya teman akrab, jadi khawatir waktu yang seharusnya buat sesuatu yang bermanfaat menjadi sebaliknya
3.   Teman-teman yang lain , walaupun mereka senang menyapa, tetapi menurut pandangan si opin kurang terbuka. Rasa akrab kurang terjalin. Padahal, opin orang yang tidak bisa diam dengan keadaaan
Akhirnya didapatkan kos yang lumayan jauh dari kampus, murah dan ada beragam kelebihan yang tidak dimiliki pada kos yang lama. Namun dia masih bingung dengan pilihannya. Beberapa kriteria yang disyaratkan oleh si opin adalah:
1.    Ada kulkasnya. Alasan pertama yang g masuk akal menurut teman-teman opin, tetapi dia bersikeras bahwa syarat ini mesti mutlak ada dan harus nomor satu, tidak boleh tidak. Alasannya sepele. Opin suka masak dan sering menimbun banyak makanan. Ketahuan kan? Kalau Opin suka makan?
2.   Dekat dengan masjid. Syarat ini juga mutlak adanya karena Opin menyukai sholat berjamaah. Dia berharap, dengan sholat berjamaah, bisa berinteraksi dengan masyarakat sekitar. Selain itu, menjaga wasiat dari pak kyainya agar selalu berjamaah. Mantap!!
3.   Bayarnya bisa tiap bulan. Ini juga sayarat yang harus ada. Opin tidak tega jika harus meminta uang kepada ortu dengan jumlah yang lumayan kecuali biaya kuliah. Jadi, untuk menghemat, dia memilih pembayaran dengan sistem bulanan. Supaya lebih mudah. Selain itu, bayar satu tahun atau tiap bulan sama saja.
4.   Ada dapur untuk memasak karena Opin lebih suka memasak sendiri.
Bagaimana strategi Opin menyelesaikan masalah ini?
1.    Berdoa. Opin ingat kata seorang Ustadz Yusuf Mansyur bahwa ketika ketika memiliki masalah, maka yang pertama kali dihubungi adalah Allah. Allah dulu, Allah lagi, Allah terus. Berbekal hal inilah Opin menyusun langkah-langkah berikutnya.
2.   Tulis kriteria apa yang diinginkan di selembar kertas dan doain itu kertas ketika habis shalat.
3.   Bertanya pada teman-teman satu kelas, seangkatan, kakak tingkat, teman organisasi sampai pada teman yang baru dikenalnya. Hemmm….hebat!
4.   Mencari beasiswa atau info-info yang menyediakan asrama gratis.
5.   Meminta dukungan dan doa dari orang tua, sahabat dan teman dekat.

 Bersambung.

Selasa, 28 Februari 2017

Legalisir Ijazah SMA

Assalamualaikum guys
Hemmmm, udah di semester akhir, doain ya, agar bisa cepat selesai kuliahnya. Amin.
Ada beberapa hal tentang syarat-syarat ujian pendadaran. Salah satu perlengkapan administrasinya adalah legalisir ijazah SLTA sebanyak 2 lembar. Hemmmm, sebenarnya, aku agak males sih buat legalisir. Masalahnya apa coba? Takut ketemu guru-guruku. Wkkwkwkkkwkkwkw....alasan yang aneh. G itu aja kali. Pengennya simpel, pake jasa notaris aja. Walah-walah, malah aneh. Secara gitu loh, sekolah almamaterku dekat. Pake jasa notaris bayar. Perlembarnya 15 ribu, itu dulu, sekarang bisa lebih. Aduh....
Akhirnya, aku memberanikan diri untuk datang ke almamaterku. MAN Temanggung. Pertama kali masuk, aduh, deg-degan juga. Dah lama kali aku g masuk sekolah ini. Dan....sudah banyak berubah. Langsung saja tanya satpam.
“Oh, iya mbak, tiga pintu dari sini, ruang tata usaha”
Itu jawaban ramah dari pak satpam ketika aku tanya. Dan.....teng...teng...teng....ketemu sama ibu, aduh, aku g hapal. Intinya, beliau karyawan tata usaha.
“Oh, iya mbak, nemuin Mbak Ari”
Whats????
Konotasiku, langsung teringat sama mbak-mbak cantik yang dulu jadi pembimbingku pas di kelas PPHP. Dan ketika masuk ruangn itu, langsung aja
“Eh, Mbakk Ari” teriakku surprise ketika orang yang namanya Mbak Ari, benar-benar orang yang dulu membimbingku. Tetap aja, mbak ini cantik, g berubah.
“Eh,....” mungkin dia mikir, ini siapa, kok kenal aku. Tepuk jidat.
“Masih kenal aku g mbak” kataku
“Ehmmmmm, masih lah, kalau nama aku lupa tapi wajah, aku ingat” katanya ramah
Ok, setelah berbasa-basi, aku disuruh menulis administrasi di berkas-berkas yang berjumlah 2, salah satunya bermaterai. Saat itu, adzan berkumandang, dan.....tanpa ba, bi, bu, Mbak Ari meninggalkan saya untuk sholat dhuhur. Wah, keren!!!! Koperasinya juga tutup, karena rencana aku buat beli materai.

Dan, kata Mbak Ari, karena bapak kepala sekolahnya sedang g ada, maka, saya diminta untuk datang besok kira-kira pukul 08:00. Alhamdulillah, keesokan harinya, pukul 8:45 saya ambil legalisir ijazah dengan cepat dan tanpa ada uang adminstrasi. 

Selasa, 21 Februari 2017

Unit 58 KKN

Kali ini, saya akan memperkenalkan satu persatu teman-teman KKN saya yang kata kita “Posko mager” iya, pada males gerak semua. Termasuk saya hehehehe. Jarang jalan-jalan. Ini yang bikin saya bete. Saya g bisa diem, makanya saya pernah bilang ma ketuanya “Ayolah Zul, jalan-jalan” dan dia bilang “Kasihan itu Ulufi g pernah jalan-jalan”. Gubrak!!!!
Selain itu, entah napa cepet capek kalau habis keluar. Dan akhirnya tidur. Walaupun pada mager tetapi alhamdulillah semua programnya berjalan dengan lancar dan terlaksana semua. Yah, walaupun ada banyak kekurangan disana sini.  
Fauzul iman muzayid
 Tica
 Ulufi g suka foto selfi
 Ardi
 Bang Irvan
Ary
 Burhan 
Suryo

Ok, tanpa menunggu lama-lama, saya akan perkenalkan satu persatu
Fauzul iman muzayid
Nah, ini adalah sosok ketua kita. Pak kanit yang biasa dipanggil fauzul ini, asalnya dari tangerang. 
Beliau adalah salah satu mahasiswa jurusan ekonomi dengan konsentrasi ekonomi pembangunan. Sosoknya ngayomi menurut saya, dan agak g enakan sama teman-temannya. Dia yang sering ngomong di depan umum. Jadi bamper kita. Hahahaha...dan bertanggung jawab banget.
Pernah dalam suatu kesempatan, kita diundang untuk menghadiri pengajian. Kita berenam sudah berangkat duluan. Dan beliau dan salah satu teman kita datang belakangan karena ada urusan. Nah, waktu sampai disana, ternyata bukan pengajian, dan kita malah disuruh memberikan motivasi ke adik-adik. Ya ampun, kita semua syok dan saling tunjuk, terutama yang dari PAI nih yang jadi sadaran empuk. Lagi panik-paniknya, si Fauzul ini datang. Langsung aja nih, kita suruh ceramah. Dia kaget, tetapi langsung tanggap. Dan akhirnya bisa. Hore!!!
Stttt....kalau ngebangunin dia tidur, dengerin aja piring diketuk pake sendok. Pasti cepat bangun. Hehehe....peace.
Sosok yang kedua ini, bu sekre atau yang sering disebut bu TOGA. Yap, beliau adalah Hardiyani Presticasari dari jurusan Farmasi yang berasal dari Magelang. Ibu yang supel ini, orangnya enak banget. Saya pribadi, sangat beruntung bisa satu kelompok dengan dia. Orangnya ramah, mudah bergaul, pinter, tanggung jawab dan lain-lain yang g bisa saya sebutkan. Yang pasti, dia itu the best deh buat kami.
Kita sering manggil dia dengan sebutan Tica, kalau teman-teman cowok, manggilnya bocil, adiknya tatan (ini Tatan si Ary) hehehehe, atau kalau g “Nyoh”. Dia yang sering nemenin teman-teman cowok bergadang, soalnya saya g betah melek. Jam 8 aja kadang udah tidur saya. Sering bikinin kopi, mie. Pokoknya kalau g ada dia, sepi deh. Dia penggerak kita semua.
Dan, yang ketiga adalah saya, Ulufi Khasanah yang sering dipanggil Ulufi. Mungkin teman-teman agak anti dengan saya karena sering bengunin mereka ketika sedang asyik-asyiknya tidur. Hehehehehe.....
Saya g bisa diskripsikan diri sendiri. Lanjut aja yah....
Sosok laki-laki yang kedua ini namanya Ardi Indra Permana. Mas yang supel, ramah, humoris dan sering senyum ini merupakan cowok paling kalem diantara teman-teman semua menurut saya. Hehehehe...dia banyak fansnya lho!
Tanpa sepengetahuannya, itu adik-adik yang sering datang ke posko, ngefans ma dia. Katanya “ganteng” dan “kalem” wkwkwkwkwk.... kalau Ardi lihat tulisan ini, pasti dia meleleh itu dipuji. Wkwkwkwkwk.
Secara gitu, dia sering bantuin ngerjain PR itu adik-adik. Kalau saya g bisa ngerjain PR terutama SMP tentang fisika dan matematika, emang sering saya lempar ke dia. Hehehehe....
Diantara anak cowok, dia paling bisa membaur dengan anak-anak kecil itu. Sosoknya yang ramah, sering senyum, baik hati, humoris itulah yang bikin akrab m mereka. Kalau diantara kami, dia juga bertanggung jawab dan  bisa memegang amanah. Oh ya, mas yang satu ini, juga ternyata ngapakers. Saya terkadang tertawa kalau dia ngomong pake bahasa daerahnya. Secara gitu, dia dari Pemalang Jawa tengah.
And the next, ada Burhan Darul Wafa
Kakak Burhan yang sering dipanggil dengan sebutan Burhan Dafa ini merupakan salah satu teman saya di jurusan PAI asalnya dari Kalimantan. Orangnya kalem, g banyak ngomong, dan pinter. Apalagi kalau bahasa arab. Uhhhh....jangan ditanya, udah kayak ngomong sehari-hari.
Nah, kata teman-teman, dia itu kalau jadi dosen itu pelit. Loh, kok bisa gitu? Iya, soalnya, waktu ngasih nilai pas perlombaan (dia salah satu juri sholat proker saya). Dan nilai anak-anak itu, sedikit banget. Bahkan ada yang enam. Pokoke pelit. Kata burhan “lha, ini kan masalah kefasihan, makhraj juga, jadi g boleh main-main” hihihihihihi. Good job!
“G papa pak dosen”.
Kakak yang bercita-cita kuliah di Turki ini, suka banget yang namanya sambel. Bahkan levelnya hight. Ya Allah, kita geleng-geleng kepala. Pasti itu boncabe yang habisin dia, sambel yang dibuat ibu, juga dia. Hahahhaha.... Dia juga nerimo dan g pernah pilih-pilih makanan kayak saya dan teman-teman. Semua makanan ibu, dia makan padahal ada pare, jengkol dan lain-lain yang buat saya, haduhhhh....enggak!!!!
Kalau yang ini namanya Suryo Avianto. Kakak yang kecil dan kerempeng ini (maaf yo) paling tinggi, paling putih diantara kami. Aku pernah tanya “Ayah dan ibumu putih ya?”
Katanya “Enggak, kakek saya yang putih” oalah, pantes. Putih banget dia. Selain itu, perawatan wajahnya, euhhhhh, ngalahin cewek.  Beliau itu baik banget, suaranya kecil, mudah bergaul dan sering laperan. Hehehehe...aduh kakak, badannya kecil tapi laperan. Mas yang kuliah di jurusan hukum ini, kasihan kalau lagi sakit. Mungkin karena faktor dia yang kecil, jadi gampang masuk anginnya. Oh ya, asal beliau dari Cirebon Jawa Barat.
Nah, kalau yang ini, namanya Ary Bagus Setiawan. Kakak yang bertubuh subur ini, sering dipanggil Tatan karena mirip Tatan. Dan paling sering kita bully. Ya Allah, maafin kami ya Ri. Habisnya, dia itu Cuma senyum aja kalau kita bully. Kakak yang berasal dari Jurusan Teknik Sipil, ngakunya diet. Cuma makan satu hari sekali. E ndilalah, karena masakan ibu, enak banget, dia gagal total dietnya. Duh, kasihan. Oh ya, aslinya, beliau berasal dari Cirebon juga.
Dan yang terakhir, ada Bang Irvan. Seperti tulisan saya sebelumnya, beliau ini sering mengatakan “Aku Ndak Paham” dengan gayanya yang khas banget. Beliau juga bijakkkk, banget. yah, mungkin karena dia paling senior diantara kami. Kita semua, manggil beliau dengan sebutan abang, bang irvan karena beliau senor kami. Nah, abang yang berasal dari Jawa Barat ini, juga baik banget.
Intinya, semua teman-teman KKN saya baik dan g aneh-aneh.  

Nah, itu dia teman-teman KKN saya yang subhanallah, saya beruntung kenal dengan mereka. Satu bulan bersama, jadi tahu kebiasaan masing-masing, kelebihan dan kekurangannya.  Walaupun sudah g bersama lagi, semoga silaturahim tetap terjalin. 

Suka Duka Jadi Anak PAI

Assalamualaikum teman-teman, lama sekali saya g publish tulisan
Sengaja atau emang males ya? Kayaknya dua-duanya ada nih. Hehehehe
Ini edisi curhat ya...
Buat saya, kuliah di jurusan Pendidikan Agama Islam itu berat. Berat karena sering dijadiin tumbal kalau ada acara-acara yang berbau keagamaan. Dan hebatnya lagi, kebanyakan acara, sering berkaitan dengan hal-hal keagamaan. Nyata banget nih.
Kayak kemarin waktu KKN, waduhhhh....itu yang berbau keagamaan banyak banget kan? Dan yang mesti ditunjuk “Ada anak FIAI (Fakultas Ilmu Agama Islam)?” kalau g “Tu lho, anak PAI” gubrak!!!
Belum lagi nanti cap, anak PAI atau FIAI itu “Alim”. Buat saya sih, aminin aja, semoga menjadi orang yang alim beneran. Dunia akhirat lagi. Selain itu, label “G boleh ada cela” itu melekat hebat.
“Mosok anak PAI gitu sih” itu kalau kita bikin kesalahan dan melakukan tindakan yang g gitu mencerminkan anak PAI. Yah, namanya manusia, dari latar belakang yang berbeda, anak PAI itu juga g semuanya berasal dari pesantren. Mungkin kalau saya boleh bilang, belajar agamanya lebih, gitu aja, jadi sering ditunjuk-tunjuk. Padahal, ada juga loh anak PAI yang dari SMK, SMA umum. Apa hubungannya coba? Hehehe. Dan ketika kuliah di PAI menurut saya, lebih banyak belajar tentang psikologi. Gimana ngadepin anak-anak, pake apa medianya dan sebagainya.
“Pantes, anak PAI” kalau kita bagus. Hehehehe...
Dari mulai pembawa acara, ngasih motivasi, ngajar TPA, tahlilan, yasinan, pengajian sampai jadi tilawah kalau ada acara. Nah, mau g mau, siap dan g siap, masak kita bilang “Jangan aku” dan akhirnya nunjuk-nunjuk.
Kayak kemarin nih, waktu KKN. “Mana nih anak PAI?”
“Kamu jadi pembawa acara ya”
“Kamu ngasih motivasi ya”
“Kamu tilawah ya”

Kalau sudah begini, buat saya ada dua hal. Yang pertama ngumpet dan menarik diri atau ini kesempatan buat saya buat belajar. Semakin kita tampil, semakin oke deh perform kita. So, semangat anak PAI!!!

Ndak Paham Aku


Kata-kata ini sering sekali digunakan oleh teman KKN saya. Namanya Bang Irvan. Kami bertujuh sering memanggil beliau dengan sebutan abang karena beliau lebih tua (hehehehe, peace, padahal belum tentu lebih tua dari kami). Hanya lebih lebih senior angkatannya daripada kami. Beliau angkatan 2011 teknik lingkungan sedangkan kami ini angkatan 2013. Nah, abang ini, sering mengucapkan kata-kata itu ketika dia tidak mudeng dengan apa-apa yang kami lakukan. Hehehehe.

Buat saya, itu lucu. Ditambah nadanya yang aneh dan sambil geleng-geleng, mikir, dan sukses bikin saya ketawa. Dan akibatnya, saya kadang-kadang ketularan bilang “Ndak Paham Aku”

Nah, Ini foto Bang Irvan,