Selasa, 18 Oktober 2016

Cemilan Sehat dari Ubi



                                           panas dan harum, baru saja diangkat dari magicom
                                               
Siang-siang gini, enaknya emang nyemil. Apalagi cemilannya bikinan sendiri. Wuiiiihhhh, mantap!!!
Wah, saya jadi teringat, dua minggu yang lalu, saya pulang dari kampung dan membawa ubi. Buat apa ya? Pikir saya saat itu. Ya sudahlah, bawa aja, nanti sampai kos mikirnya. Ubi bisa dibikin sayur (loh), kolak, kue, keripik, cemilan dan lain-lain. Nah, tadi malam, ketika ketemu teman, baru dapat inspirasi buat bikin cemilan ini. Mudah-mudahan g mengecewakan hasilnya. Masak sendiri banyak untungnya loh.  Selain terserah mau kayak apa rasanya, bebas berkreasi, juga menghemat uang jajan. G perlu berlama-lama lagi yuk, ikutin resepnya. Apalagi buat anak kos seperti saya.
Bahan-bahan
1.  Ubi tela satu buah ukuran kecil (maklum, saya bikinnya sedikit saja, ini baru nyoba, jadi the fist experience)
2.  Parutan kelapa, satu genggam saja. Lebih banyak lebih gurih
3.  Gula merah secukupnya
4.  Garam secukupnya
Cara mengolahnya
1.  Kupas ubi, iris kecil-kecil, tujuannya adalah agar lebih cepat mengukus dan menumbuknya. Hati-hati dengan getah ubi, jika tidak segera dibersihkan akan susah. Kalau misalnya lebih aman, pakai plastik. Cuci bersih setelah dikupas.
2.  Gula merah disisir
3.  Angkat ketika sudah matang. Sekitar 15 menitan mengukusnya
4.  Tumbuk sampai halus
5.  Cetak. Terserah mau bentuk yang seperti apa


ditumbuk, ketika masih panas, biar tidak keras
Gampang kan? Buat anak kos seperti saya, walaupun serba terbatas, tetap bisa bikin kayak gitu. Rasanya…..ueeeenak banget. Apalagi jika mencium aroma kelapa, gula merah (apalagi jika gula aren) wuiiihhhhhh harum banget, bikin perut keroncongan. Teman-teman boleh kreasikan sendiri. Tadi itu cuma dasarnya saja, bisa ditambah buah nangka, pisang, pandan, panili, perasa dan lain sebagainya. Oh ya, saya itu mengukusnya pake magicom loh.

dicetak, sebenarnya bisa dibuat lebih unyu
Mahal g biayanya? Saya rasa tidak ya….karena ubinya saya dapat dari rumah, maka gratis. Saya beli gula merah, padahal bisa juga gula putih, tapi saya pengen seseuatu yang beda, biar harum dan enak. Harga ¼ gula merah 4000, itu saja g dibikin semua kan? Jadi sekitar 1000 lah. Garam, udah punya. Dan terakhir parutan  kelapa,  beli harganya 2500, itu sudah dapat banyak. Menurut saya kebanyakan, tapi gak apa-apa daripada dibuang kan sayang. Gimana, tertarik?

dan....taraa...hasilnya.
kalau ditempat saya namanya getuk

So, g ada alasan buat g bikin.










Senin, 17 Oktober 2016

Kumpulan Kata Bijak dari Buku

Kita memang tidak bisa mengendalikan takdir, kita tidak bisa memilihnya. Tetapi kita msih punya kesempatan untuk menyikapi takdir dengan bijaksana

Bukan kita yang memilih takdir, tetapi takdir yang memilih kita. bagaimanapun, takdir bagaikan angin bagi seorang pemanah. Kita selalu harus mencoba untuk membidik dan melesatkanya disaat yang tepat (Shalahuddin Al Ayyubi)

Jangan pernah merasa menjadi orang paling menderita di dunia ini. hidup tidak semenyedihkan itu, kawan. Kalau kita sedang di masa yang sulit, mungkin Tuhan sedang menginginkan kita menundukkan kepala, melihat-lihat orang lain yang tidak seberuntung kita. dengan begitu, kita jadi ingat, hal yang selama ini tidak kita syukuri. Kesempatan yang lebih baik yang diberikan Tuhan. Benar kan?


Minggu, 16 Oktober 2016

Betapa Susahnya Bilang Terima Kasih[1]


Pernah tidak kita mengucapkan terima kasih kepada petugas pom bensin yang telah mengisikan bensin ke motor kita?
Pernahkah kita mengucapkan terima kasih kepada tukang parkir yang menjaga motor kita, menyeberangkan, hingga mencarikan tempat parkir?
Pernah tidak kita berterima kasih kepada adik yang telah mengantarkan kita ke sana kemari, menjemput sehabis kuliah?
Atau kita malu?
“Ah, itu mah biasa saja, kan udah sering”
“Malu ah, kan nggak terbiasa”
“Ah, sama saudara sendiri nggak usah pakai terima kasih, udah kewajiban dia buat nolong saudaranya?”
Pernah nggak mikir kayak gitu? Atau malah sering?
Tulisan ini mengingatkan kita semua terutama saya pribadi yang sering kali abai terhadap masalah sepele ini.
Barang siapa yang tidak mensyukuri yang sedikit, maka ia tidak akan mampu mensyukuri sesuatu yang banyak.” (HR. Ahmad)
Hadist ini yang beberapa bulan yang lalu sempat saya baca di depan pintu masuk lantai 3 auditorium Kahar Muzakir yang menuju ke DPPAI. Cukup membuat saya merenung. Apa yang sudah saya sukuri hari ini? Bagaimana saya dapat mensyukuri nikmat Allah yang banyak, sedangkan yang sedikit saja tidak mampu saya sukuri?
Ahad, 29 desember 2014, adik saya menemukan dompet yang isinya STNK di daerah Jalan Kaliurang atas nama X, karena STNK itu beralamat di Jogja, dia menyerahkan ke saya. Karena saat itu juga dia harus segera pulang ke Temanggung.
Di dalam dompet itu tidak ada petunjuk apapun selain sebuh nota dan foto remaja laki-laki ukuran 3x4. 
Langsung saja saya menghubungi nomor yang tertera di nota itu dengan sms,
“Assalamu’alaiku, apakah benar ini pemilik STNK atas nama X  bla…bla…bla…
Beberapa menit kemudian saya menerima balasan yang membuat saya geleng-geleng kepala sekaligus nyesek “Ya”.
 Hanya itu saja jawabannya.
Ha? Kok nggak ada respon. Saya bingung sekaligus prihatin. Jika saya yang kehilangan barang itu, maka saya akan menghubungi orang yang menemukan, menanyakan lokasi dimana orang yang menemukan, mencarinya, berusaha secepat mungkin untuk bisa mendapatkan STNK, itu kembali,  mengucapkan terima kasih dan bl….bla..bla… 
Oh, mungkin orang yang kehilangan ini cowok, sehingga enggak sebawel saya. Mungkin dia belum ngeh kalau STNK nya hilang atau…berbagai argument lain yang memenuhi kepala saya waktu itu.
Saya, adalah tipe orang yang sesegera mungkin mengembalikan barang yang saya temukan. Saya khawatir ketika orang ini akan menggunakan motornya tanpa STNK. Disitulah, malah saya yang panik dan agresif dengan sms banyak sekali ke nomor yang tadi.
“Assalamualaikum, saya Ulufi, mahasiswi, saya menemukan STNK bla….bla…bla…”
“Daerah mana itu” jawab sms itu
“Oh, daerah Kaliurang UII” balas saya
Saya heran, ini orang yang kehilangan STNK tenang banget, nggak ada ekspresi yang wow! Malah bilangnya seperti itu dan yang lebih parah lagi,
 Dia Cuma bilang
“Hubungi no …089  ini saja, saya anaknya”
Ya Ampun, Sumpah deh! Bikin emosi nih orang. Kok bisa-bisanya yah, kalem, kayak baek-bek saja, malah menyuruh saya menghubungi, dan parahnya hubungi ayahnya lagi.
Ini siapa yang kehilangan?!!!!!
Kok aku yang senewen!!!
Masak STNK punya bapaknya hilang ngga dicariin, nggak diperhatiin, malah nyuruh orang yang menemukan yang menghubungi!!! Batin saya geram
Hampir bikin saya bertanduk tuh jawaban smsnya
Kemana kepedulian pada ayahnya!!!
Hiks
Akhirnya saya sms ke nomor yang tadi dikasih oleh mas/mbaknya. Dan…ga dibalas.
Dengan terpaksa, dan saya udah benar-benar ilfeel, nih STNK plus dompetnya saya serahkan ke satpam kampus. Sebel.
Kemudian saya sms ke nomor Si Anak mengatakan bahwa STNK sudah saya letakkan ke satpam kampus FIAI Aneh.
Beberapa menit kemudian, saya turun ke bawah menemui satpam untuk menanyakan apakah di dompet tadi terselip flash disk saya? Karena pada saat itu saya sedang pengambilan video untuk tugas, dan ketika mengembalikan dompet, saya membawa flash disk,  jadi saya takut itu fash disk terbawa. Sampai disatpam,
 “Dompetnya sudah diambil, Mbak,” kata satpam dan…katanya
“Iya, ini STNKku. Loh, sama dompetnya?” kata beliau sambil menirukan orang yang mengambil dompet dan STNK. Saat itu saya tidak berpikir, apakah benar itu memang dompetnya atau bagaimana. Yang penting, dompet itu sudah kembali. Saya berpikir, mungkin salah satu keluarga, atau kerabat yang tadi bawa motor itu sehingga dia tidak tahu bawa dompet atau tidak.
Allahu akbar, saya benar-benar geleng kepala dengan kejadian barusan. Saya tidak habis pikir. Peristiwa itu saya curhatin ke teman, apa yang dia bilang?
 “Ada dua hal sepele yang sering dilupakan oleh orang yaitu bilang terima kasih dan meminta maaf”
Upss!!
Ya Allah, saya sadar dan yakin, peristiwa ini adalah salah satu cara Allah untuk menguji, menanyakan, melihat, merefleksikan. Sudahkah saya selalu berterima kasih terhadap Dia dan orang-orang yang membantu saya?
Memang, saat itu saya tidak pernah sedetikpun berpikiran bahwa saya menemukan STNK kemudian dikasih uang. Oh…tidak. Sempat berpikir, “Nih orang nggak tahu berterima kasih ya, seharusnya, lebih peka, menghormati, walaupun hanya lewat sms…”
Jangan-jangan, saya juga seperti itu…tak tahu berterima kasih.
Jika dengan orang lain yang hanya memberi, menolong sedikit saja saya sering lupa. Bagaimana dengan Allah, yang telah memberikan saya terlalu banyak, bahkan tanpa saya pinta? Apakah malah lupa, karena saking banyaknya?
 “Dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu memaklumkan: Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih.” (QS. Ibrahim: 7).
Jika saya melihat dari peristiwa diatas, maka seperti orang yang melupakan, menutup dari nikmat Allah, tidak tahu berterima kasih. Dalam kamus besar bahasa Indonesia, terima kasih adalah rasa syukur. Sedangkan berterima kasih artinya mengucap syukur; melahirkan rasa syukur atau membalas budi setelah menerima kebaikan dan sebagainya.
Mudah diucapkan tetapi susah diterapkan kalau kita tidak terbiasa melakukannya. “Alah bisa karena biasa”. Tapi hal ini bisa dibiasakan. Dengan berterima kasih, kita telah menghargai, mengapresiasi apa yang dilakukan oleh orang lain terhadap kita. Bisa dengan ucapan, hadiah, atau gerakan tubuh. Kalau kita berterima kasih kepada Allah, ya bisa diucapkan dengan Alhamdulillah, atau dengan menggunakan nikmat Allah sesuai dengan kehendakNya. Sebenarnya, berterima kasih ada manfaatnya lho, antara lain
1. Membuat kita menjadi orang yang pandai bersyukur
2. Bahagia. Coba kita perhatikan, orang yang mengucapkan terima kasih, dia pasti sambil tersenyum, matanya berbinar-binar dan senang bukan main atas perhatian kita.
3. Membuat kita dikenal sebagai orang yang tahu berterima kasih
4. Kalau kita aplikasikan ke yang memberi kita hidup, maka nikmat kita akan bertambah, sesuai dengan firman Allah dalam surat Ibrahim diatas.
Ok, gimana? Masih nggak mau berterima kasih untuk yang memberi, menolong kita? Yuk, belajar berterima kasih pada Allah dan orang-orang disekitar kita!
×






[1] Pernah dimuat di bulletin Al Rasikh DPPAI UII bulan Agustus 2016

Sabtu, 15 Oktober 2016

Perjalanan Ke Singapore (Part 3)

Tepat pada jam 17:00 waktu Malaysia kami berangkat dari One City, stasiun dari belakang hostel kami. Berjalan 500 meter menunggu bis datang, yang ternyata datangnya lamaaaaaaaa banget. Dan ketika bis datang, cuma kami saja penumpangnya. Dari One City menuju USJ 21 sekitar 5 menit, dengan membayar  1 ringgit per orang. Sesampainya di USJ kami berganti dengan LRT Rapid KL. Namun sebelumnya, kami melakukan sholat maghrib terlebih dahulu. Yah, walaupun kamana-mana, diusahakan untuk tetap sholat tepat waktu ya….
Setelah melakukan sholat, kami membeli tiket untuk LRT Rapid KL dari USJ 21 menuju KL Central. Cara beli tiketnya, melalui sebuah mesin seperti mesin ATM. Hemmmmm, saya suka dengan sistem transportasi di Malaysia yang sudah jauh lebih nyaman daripada negara kita. Tapi, tidak apa-apa, berproses, semoga Indonesia bisa!! Amin. Dari tempat kami tinggal yaitu Subang, waktu yang diperlukan ke KL Central sekitar satu jam. Lumayan juga sih. Setelah sampai di KL Central, kami membeli tiket lagi untuk ke Terminal Bersepadu Selatan (TBS), karena kami ingin ke Singapure naik bis. Bukan naik pesawat. Harga tiketnya saya lupa berapa. Yang pastinya, kami menunggu agak lama.

Sembari menunggu kereta datang, kami makan malam dengan lauk daging bumbu kurma. Hemmmm…enak. Perjalanan ke TBS ini sekitar 20 menitan. Setelah itu, kami turun.

Nah, permasalahan muncul ketika kami disini. Ternyata, uang kita tidak cukup untuk membeli tiket bis, yang harganya 35 ringgit per orang. Kami kira, kami bisa beli tiket untuk bolak-balik, ternyata tidak bisa. Tiket untuk balik, harus dibeli di Singapure. Yang itu berarti dolar. Dan bayangan kami sudah. “Ya Allah, gholin jiddan” dan, saat itu, kami tidak membawa uang ringgit dalam jumlah yang cukup.
 

Self Healing



gambar, sumber google
Insya Allah, akan diadakan pengajian Ruqyah di Masjid Ulil Albab UII selama satu bulan sampai bulan November, setiap malam sabtu ba’da maghrib. Nah, tadi malam, sempat ikut kajian ini. Dan, beberapa catatan yang akan saya bagikan ke teman-teman.
Pada pertemuan pertama ini, ustadznya membahas tentang konsep rehab hati, penyembuhan diri atu lebih dikenal dengan self healing. Rehab hati merupakan sinergi pelatihan yang menggabungkan tazkiyyah dan terapi Alquran, meramu Alquran dan sunnah dalam menggapai kesembuhan bahkan mengubah kesembuhan manusia.
Galau. Hayo, siapa yang pernah mengalami hal ini? saya yakin kita semua pasti pernah, atau bahkan sering merasakan galau. Galau g punya uang, galau kiriman belum datang, galau belum nikah, galau karena jomblo, galau karena teman-temannya g cocok dan lain sebagainya. Apa akibat dari rasa galau ini? yang terjadi adalah sakit, lemah dan kontroversi hati. Ihhhhhhh, syerem.
Apa juga akibat galau? Karena jiwanya yang sakit, maka akan berakibat pada psikis/jiwanya. G percaya? Pernah merasakan pusing karena memikirkan skripsi yang g selesai-selesai? (ini pas, saya lagi garap skripsi…dan semoga g membuat saya stress dan pusing, hiihihih). Nah, itu kan g ada sebab-sebabnya kan? Hanya karena kita mikir kan? Itulah yang dinamakan penyakit penyakit jiwa yang berakibat ke fisik. Akibatnya jadi pusing deh.
Nah, bagaimana mengatasinya.
1.  Simulasi. Yang mencakup hal ini adalah eksperimen: dianalisis, apa penyebab galau? Jangan-jangan ketempelan jin. Hiyy…Coba dengarin Alquran dengan niat untuk menyembuhkan. Gimana rasanya?
2.  Terapi. Terapi ini, bisa kambuh lagi karena berbagai alasan, antara lain capek, bosan, ingin mati, malah pergi kedukun.
3.  Hijrah/perubahan secara total, jangan setengah-setengah. Kadang-kadang kita g sadar, termasuk saya sendiri, sering melakukan hal-hal yang sepele, menyebabkan syetan masuk ke tubuh kita. Seperti hal-hal berikut ini yang menyebabkan kita kemasukan syetan
a.  Menguap. Jika menguap, maka ditahan atau ditutup, karena syetan akan masuk jika tidak ditutup. Kalau ayah saya sering bilang, syetannya tertawa.
b.  Makan dengan tangan kiri. Dalam hadist juga ada yah….hikmahnya apa? Ternyata, syetan itu makan dengan tangan kiri. Apalagi ditambah g pernah berdoa, komplitlah, syetannya masuk ke tubuh.
c.   Tidak pernah berdoa. Dalam kegiatan sehari-hari, ketika melakukan sesuatu, kita dianjurkan untuk berdoa, kalau lupa, maka akan ada doanya juga. Yaitu bismillahi awwalahu, waakhirahu.
d.  Bangun tidur, sunnah yang dilakukan adalah sebelum masuk kamar mandi, menghisap air melalui hidung, karena syetan tidur di lubang hidung.
Kesembuhan fisik, dimulai dari kesembuhan jiwa.
Dalam tubuh manusia, ada 3 hal
1.  Fisik
2.  Ruh
3.  Jiwa. Diciptakan setelah ruh. Dan jiwa ini akan mengalami proses penyempurnaan ketika berumur 40 tahun. Setelah umur itu, maka orang akan mengalami ke masa bayi lagi.
Nah, benda atau bahan apa saja yang bisa menyembuhkan? Ada air, air hujan, madu, buah tin dan zaitun, kurma.
Ini dari self healing ini adalah
1.  Tazkiyatun nafs (pembersihan jiwa)
2.  Terapi Alquran
3.  Ruqyah mandiri
4.  Hijrah


e.   



Jumat, 14 Oktober 2016

Cemilan Sehat Ala Anak Kos










Assalamualaikum teman-teman, gimana kabarnya hari ini?
Semoga lebih baik dari hari yang kemarin ya….
Ngomong-ngomong tentang makanan, kali ini saya akan berbagi tips tentang cemilan yang agak berat. Cemilan yang satu ini adalah salah satu makanan yang saya sukai selain kacang. Ini bukan cemilan deh kayaknya, soalnya kandungan karbohidratnya banyak banget, bahkan ini karbohidrat. Yah, sudahlah terserah saya mau namain cemilan juga g papa. Soalnya, saya mikirnya, orang Indonesia itu belum dikatakan makan jika belum makan nasi, padahal sudah makan dua mangkuk bakso. Iya po iya?
Cemilan manis dan lezat ini terbuat dari campuran gandum dan pisang. Cara bikinnya amat sangat mudah. Apalagi bagi anak kos yang g komplit peralatan dapurnya.
Bagaimana cara membuatnya? Bahan-bahan apa saja yang perlu disiapkan? Ikuti langkah-langkah berikut.  Tapi maaf teman-teman, saya pake ilmu kiro-kiro logi untuk membuatnya karena hanya berdasarkan feeling, jadi ukurannya agak sedikit aneh.
Bahan-bahan
1.     Pisang
2.     Gandum
3.     Gula
4.     Garam
5.     Air
Itu ukurannya selera saja, terserah. Paling enak kalau banyak pisangnya. Hemmmmm….lezat.
Cara membuat
1.     Encerkan gandum menggunakan air secukupnya, jangan terlalu kental, juga jangan terlalu cair, karena kalau terlalu kental, hasilnya keras.
2.     Masukkan garam, gula, sesuai selera
3.     Iris pisang menjadi kecil-kecil, masukkan ke adonan 1. Aduk
4.     Masukkan ke dalam wadah kecil, bisa dicetak, bahkan sebenarnya ini kalau di desa, atau orang Jawa dibungkus pake daun pisang (namanya saranggesing) kalau di daerah saya
5.     Kukus hingga matang. 
Buat anak kos seperti saya, saya mengukusnya di magicom. Jadi, ketika nasi sudah matang, atau lampu menyala kuning, masukkan saranggesing yang sudah dicetak dalam sebuah wadah. Nyalain lampu magicom agar berwarna merah. Tunggu sampai matang. Siap dihidangkan. Gampang kan?
Yuk, nyoba. Dijamin, lezat, enak, bergizi dan murah. Untuk kreasi yang lain, silahkan ditambahin apa saja.


Cemilan Enak dan Sehat Ala Anak Kos



saranggesing yang sudah jadi ala Ulufi


Assalamualaikum teman-teman, gimana kabarnya hari ini?
Semoga lebih baik dari hari yang kemarin ya….
Ngomong-ngomong tentang makanan, kali ini saya akan berbagi tips tentang cemilan yang agak berat. Cemilan yang satu ini adalah salah satu makanan yang saya sukai selain kacang. Ini bukan cemilan deh kayaknya, soalnya kandungan karbohidratnya banyak banget, bahkan ini karbohidrat. Yah, sudahlah terserah saya mau namain cemilan juga g papa. Soalnya, saya mikirnya, orang Indonesia itu belum dikatakan makan jika belum makan nasi, padahal sudah makan dua mangkuk bakso. Iya po iya?
Cemilan manis dan lezat ini terbuat dari campuran gandum dan pisang. Cara bikinnya amat sangat mudah. Apalagi bagi anak kos yang g komplit peralatan dapurnya.
Bagaimana cara membuatnya? Bahan-bahan apa saja yang perlu disiapkan? Ikuti langkah-langkah berikut.  Tapi maaf teman-teman, saya pake ilmu kiro-kiro logi untuk membuatnya karena hanya berdasarkan feeling, jadi ukurannya agak sedikit aneh.
Bahan-bahan
1.     Pisang
2.     Gandum
3.     Gula
4.     Garam
5.     Air
Itu ukurannya selera saja, terserah. Paling enak kalau banyak pisangnya. Hemmmmm….lezat.
Cara membuat
1.     Encerkan gandum menggunakan air secukupnya, jangan terlalu kental, juga jangan terlalu cair, karena kalau terlalu kental, hasilnya keras.

gandum yang telah diencerken bersama gula, air, garam
2.     Masukkan garam, gula, sesuai selera
3.     Iris pisang menjadi kecil-kecil, masukkan ke adonan 1. Aduk

irisan pisang
4.     Masukkan ke dalam wadah kecil, bisa dicetak, bahkan sebenarnya ini kalau di desa, atau orang Jawa dibungkus pake daun pisang (namanya saranggesing) kalau di daerah saya

campuran gandum dan pisang, aduk ya
5.     Kukus hingga matang
Buat anak kos seperti saya, saya mengukusnya di magicom. Jadi, ketika nasi sudah matang, atau lampu menyala kuning, masukkan saranggesing yang sudah dicetak dalam sebuah wadah. Nyalain lampu magicom agar berwarna merah. Tunggu sampai matang. Siap dihidangkan. Gampang kan?


dan, taraaa....hasilnya
saranggesing
Yuk, nyoba. Dijamin, lezat, enak, bergizi dan murah. Untuk kreasi yang lain, silahkan ditambahin apa saja.